Tunisia Tunjuk Moin Chaabani sebagai Pelatih hingga 2030: Misi Bangkit dari Kegagalan Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Moin Chaabani, pelatih berusia 45 tahun, resmi menangani timnas Tunisia hingga 2030 setelah sukses di level klub Maroko.
- Tunisia mengalami kegagalan total di Piala Dunia 2026 dengan tiga kekalahan, yang memicu pergantian pelatih ketujuh sejak 2024.
- Kontrak panjang Chaabani menunjukkan upaya FTF membangun stabilitas jangka panjang jelang kualifikasi Piala Afrika 2027.

Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengambil langkah ambisius dengan menunjuk Moin Chaabani sebagai pelatih kepala tim nasional hingga 2030, menandai akhir dari masa transisi yang penuh gejolak pasca kegagalan di Piala Dunia 2026. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (28/7) setelah Chaabani meninggalkan klub Maroko Renaissance de Berkane.
Chaabani, yang sebelumnya meraih dua gelar Liga Champions Afrika bersama Esperance, kini menghadapi tantangan terbesarnya: membangkitkan timnas yang baru mencatat rekor buruk dengan kalah di semua pertandingan Piala Dunia 2026. Ia menggantikan Herve Renard, pelatih asal Prancis yang hanya menangani dua laga terakhir grup setelah Sabri Lamouchi dipecat usai kekalahan 1-5 dari Swedia.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi banyak federasi, termasuk di Asia. Indonesia, yang juga gagal lolos ke Piala Dunia 2026, kerap mengalami masalah serupa: pergantian pelatih yang terlalu sering tanpa hasil signifikan. Menurut analis sepak bola nasional, stabilitas kepelatihan menjadi faktor kunci dalam membangun fondasi tim jangka panjang—sesuatu yang coba dilakukan Tunisia lewat kontrak Chaabani selama empat tahun.
Pencapaian Chaabani di level klub memang mengesankan. Selain sukses di Maroko, ia pernah menjuarai Liga Champions CAF bersama Esperance pada dua kesempatan. Namun, menangani tim nasional adalah pengalaman baru baginya. "Ini adalah pertama kalinya ia memimpin tim nasional, tetapi rekam jejaknya menunjukkan ia mampu membangun tim yang solid," ujar seorang sumber di FTF seperti dikutip Reuters.
Ke depannya, Tunisia harus segera bangkit karena kualifikasi Piala Afrika 2027 akan dimulai pada September. Mereka tergabung di Grup H bersama Uganda, Libya, dan Botswana—lawan yang tidak mudah tetapi masih dalam jangkauan. Pertanyaannya, dapatkah Chaabani mengulang kesuksesannya di klub untuk membawa The Eagles of Carthage kembali ke puncak sepak bola Afrika? Ataukah ini akan menjadi babak baru dalam siklus pergantian pelatih yang tak kunjung usai?



