Apple Samai Nvidia dengan Kapitalisasi Pasar $5 Triliun, Berkat Strategi Menghindari Perang AI
Baca dalam 60 detik
- Saham Apple sempat mendorong kapitalisasi pasarnya menembus $5 triliun pada 28 Juli 2026, menjadikannya perusahaan kedua yang mencapai angka tersebut setelah Nvidia.
- Kenaikan valuasi ini didorong oleh permintaan produk yang kuat dan keputusan Apple untuk tidak ikut serta dalam perlombaan belanja AI yang membebani arus kas pesaing.
- Program sewa perangkat baru melalui Klarna dan penahanan harga iPhone menjadi strategi cerdas untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah ekspektasi kenaikan harga.

Apple untuk sementara waktu berhasil mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar $5 triliun pada perdagangan Selasa (28/7/2026), menjadikannya perusahaan kedua dalam sejarah yang mencapai tonggak tersebut setelah Nvidia. Capaian ini menegaskan kembali posisi Apple sebagai perusahaan paling bernilai di bursa global, meskipun valuasi akhirnya sedikit turun ke $4,96 triliun pada penutupan sesi.
Pencapaian ini tak lepas dari strategi unik Apple di tengah gempuran investasi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan para raksasa teknologi lain. Alih-alih menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur AI, Apple memilih mengandalkan teknologi Google untuk mengembangkan fitur-fitur seperti Siri yang diperbarui. Langkah ini membuat Apple terhindar dari beban belanja modal yang justru mengkhawatirkan investor di perusahaan seperti Microsoft dan Alphabet.
Dipanjan Chatterjee, wakil presiden dan analis utama Forrester, menilai langkah Apple ini sebagai pertaruhan bahwa pengalaman pelanggan—bukan investasi infrastruktur—yang akan menjadi penentu kemenangan di industri teknologi. Menurutnya, program sewa perangkat yang diluncurkan Apple pada hari yang sama bersama Klarna adalah respons cerdas: tidak menurunkan harga iPhone, tetapi mengubah cara konsumen memandang biaya melalui cicilan bulanan yang lebih terjangkau.
Di Indonesia, strategi ini bisa menjadi contoh bagi produsen gadget lain yang ingin menahan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Meskipun program sewa baru diterapkan di Amerika Serikat, model serupa berpotensi diadaptasi di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana penetrasi iPhone masih didominasi segmen premium. Pengamat teknologi Indonesia, seperti dikutip dari beberapa sumber, menilai bahwa pendekatan Apple untuk tidak terjebak dalam perang belanja AI justru bisa menjadi pelajaran bagi startup lokal agar lebih fokus pada nilai tambah konsumen.
Keberhasilan Apple meraih valuasi fantastis ini juga ditopang oleh kebijakan harga yang hati-hati. Bulan lalu, Apple mempertahankan harga iPhone saat menaikkan harga MacBook dan iPad. Langkah itu mendorong konsumen memburu iPhone sebelum kemungkinan kenaikan harga di akhir tahun. Keputusan ini terbukti efektif di tengah perlambatan ekonomi global yang memukul permintaan perangkat elektronik.
Dengan capaian ini, Apple kembali menunjukkan bahwa perlombaan AI bukan satu-satunya jalan menuju pertumbuhan. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah strategi ini bisa bertahan dalam jangka panjang, terutama saat pendapatan dari layanan—yang menjadi andalan berikutnya—mulai melambat. Investor akan mencermati laporan keuangan pekan ini untuk melihat apakah momentum ini bisa berlanjut.



