Putra Kartini yang Memilih Hidup Sederhana: Pelajaran Integritas dari Seorang Jenderal
Baca dalam 60 detik
- Raden Mas Soesalit, putra tunggal R.A. Kartini, menolak menggunakan nama besar orang tuanya untuk meraih keuntungan pribadi.
- Ia memilih karier militer daripada jabatan bupati yang diwariskan, dan mencapai pangkat Panglima Divisi II Diponegoro.
- Setelah pensiun, Soesalit hidup dalam keterbatasan karena enggan memanfaatkan statusnya sebagai anak pahlawan nasional.

Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap menjadikan nama besar orang tua sebagai tiket menuju kekuasaan dan kemewahan, kisah Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat hadir sebagai antitesis yang menohok. Putra tunggal pahlawan nasional R.A. Kartini ini memilih jalan sunyi: menolak menjual nama besar ibunya dan menjalani hidup sederhana hingga akhir hayat.
Soesalit lahir dari kalangan priyayi Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat, adalah Bupati Rembang. Ibunya, Kartini, dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun, alih-alih menikmati privilese sebagai anak pejabat, Soesalit memilih hidup mandiri. Menurut catatan Wardiman Djojonegoro dalam buku Kartini (2024), ia sebenarnya berhak menggantikan posisi sang ayah sebagai bupati. Tawaran itu datang berulang kali dari sanak saudara, namun Soesalit dengan tegas menolak.
Keputusan itu membawanya ke dunia militer. Pada 1943, ia masuk tentara bentukan Jepang dan bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Setelah proklamasi kemerdekaan, ia menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terus menanjak kariernya. Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979) mencatat, Soesalit terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda, yang mempercepat promosi pangkatnya.
Puncak kariernya terjadi pada 1946 ketika ia diangkat sebagai Panglima Divisi II Diponegoro. Divisi ini memiliki peran strategis karena bertugas menjaga ibu kota negara yang saat itu berada di Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastroamidjojo pada 1953. Meski demikian, sedikit orang yang tahu bahwa perwira tinggi ini adalah putra Kartini. Soesalit sengaja tidak pernah menyebut-nyebut nama ibunya.
Jenderal Abdul Haris Nasution, yang pernah menjadi atasan Soesalit, menjadi saksi hidup atas integritasnya. Nasution menuturkan bahwa Soesalit bisa saja hidup berkecukupan jika bersedia mengatakan bahwa ia adalah satu-satunya putra Kartini. "Dengan begitu, banyak orang akan menaruh simpati sehingga bisa mengubah hidup jenderal bintang dua tersebut," kata Nasution, seperti dikutip dalam Kartini: Sebuah Biografi. Namun, Soesalit tetap memegang prinsip yang ditanamkannya sejak awal: tidak mau mengumbar asal-usulnya.
Konsekuensi dari sikap itu sungguh pahit. Ketika masa baktinya di militer berakhir, Soesalit memilih hidup sebagai veteran biasa, tanpa pernah menuntut hak-haknya. Ia meninggal dalam keterbatasan pada 17 Maret 1962, jauh dari gemerlap nama besar yang diwariskan ibunya. Lagu "Ibu Kita Kartini" karya W.R. Soepratman terus berkumandang, namun putra semata wayang sang pahlawan justru tenggelam dalam kesunyian.
Kisah Soesalit menawarkan refleksi mendalam bagi generasi masa kini, terutama di Indonesia yang kerap diwarnai praktik nepotisme dan politik dinasti. Di saat banyak anak pejabat memanfaatkan nama orang tua untuk meraih kekuasaan dan kekayaan, Soesalit memilih jalan sebaliknya: ia membuktikan bahwa integritas dan kerja keras lebih berharga daripada sekadar warisan nama besar. Pertanyaannya, mampukah elite politik dan masyarakat Indonesia meneladani sikapnya di tengah arus materialisme yang semakin deras?



