Prabowo Buka Peluang Kerja WNI di Jerman, Targetkan Sektor Teknologi Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mendorong perluasan akses tenaga kerja Indonesia ke Jerman, terutama di bidang teknologi tinggi dan keperawatan.
- Penandatanganan Letter of Intent (LoI) tentang Global Skills Partnership menjadi langkah awal konkret kerja sama ketenagakerjaan bilateral.
- Kunjungan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta menandai penguatan hubungan kedua negara menjelang 75 tahun diplomasi pada 2027.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259534/original/053824500_1781505535-1.jpg)
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyampaikan keinginan Indonesia untuk memperluas kesempatan kerja bagi warga negara Indonesia (WNI) di Jerman, tidak hanya di sektor perawatan tetapi juga di bidang teknologi tinggi. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6/2026), setelah keduanya melakukan pertemuan bilateral yang berlangsung sekitar satu jam.
"Indonesia ingin memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di Jerman, termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi," ujar Prabowo. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus mempererat hubungan ekonomi kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo dan Steinmeier juga mengapresiasi penandatanganan Letter of Intent (LoI) mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan, yang diharapkan menjadi model bagi sektor lain.
Langkah ini dinilai strategis mengingat Jerman saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil, terutama di bidang teknologi informasi, teknik, dan perawatan kesehatan. Bagi Indonesia, perluasan akses ke pasar tenaga kerja Jerman membuka peluang peningkatan kompetensi dan remitansi. Namun, tantangan seperti kualifikasi bahasa dan penyetaraan sertifikasi masih perlu diatasi agar tenaga kerja Indonesia bisa bersaing.
Selain ketenagakerjaan, Prabowo dan Steinmeier sepakat untuk terus mendorong peningkatan volume perdagangan dan investasi. Prabowo berharap Jerman berperan aktif dalam finalisasi perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) di tingkat internal Eropa. "Kami berharap Jerman akan terus memainkan peran aktif dalam proses finalisasi perjanjian internal di Eropa sehingga dapat segera memberi manfaat konkret bagi dunia usaha di kedua negara," tuturnya.
Kunjungan kenegaraan Steinmeier ini memiliki makna simbolis yang kuat. Prabowo menyambut tamunya dengan sapaan bahasa Jerman, "Guten Tag, herzlich willkommen," yang disambut hangat oleh delegasi Jerman. Menurut Prabowo, kehadiran Steinmeier di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian menunjukkan eratnya hubungan kedua negara. "Penguatan dan keberlanjutan kemitraan Indonesia dan Jerman tentunya menjadi prioritas," tegasnya.
Bagi Indonesia, kerja sama dengan Jerman tidak hanya berdampak pada sektor tenaga kerja dan perdagangan, tetapi juga membuka akses teknologi dan investasi. Dengan populasi muda yang besar, Indonesia memiliki potensi menjadi penyedia tenaga kerja terampil yang dibutuhkan Jerman. Namun, pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan dan sertifikasi yang sesuai standar internasional agar peluang ini dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ke depan, implementasi LoI Global Skills Partnership akan menjadi ujian bagi komitmen kedua negara. Apakah kerja sama ini akan meluas ke sektor lain seperti teknologi tinggi atau tetap terbatas pada keperawatan? Pertanyaan tersebut akan menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diraih Indonesia dari kemitraan strategis ini.



