Iran dan AS Sepakat Buka Babak Baru Negosiasi Nuklir Pekan Ini
Baca dalam 60 detik
- Iran mengonfirmasi putaran baru perundingan nuklir dengan AS akan dimulai Jumat pekan ini, setelah penandatanganan nota kesepahaman gencatan senjata.
- Kesepakatan awal mencakup pembukaan blokade Selat Hormuz dan pembebasan aset Iran senilai 12 miliar dolar AS, namun isu pengayaan uranium masih menjadi ganjalan.
- Konflik di Lebanon antara Israel dan Hizbullah disebut analis sebagai ancaman terbesar terhadap keberlanjutan diplomasi AS-Iran.

Iran dan Amerika Serikat akan memulai putaran baru perundingan nuklir pada Jumat pekan ini, menindaklanjuti nota kesepahaman yang telah ditandatangani secara elektronik oleh kedua pihak. Langkah ini menjadi titik balik setelah hampir empat bulan perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa lokasi perundingan masih akan ditentukan, namun agenda utama mencakup isu nuklir dan pencabutan sanksi. "Dalam kesepakatan akhir, keputusan akan dibuat mengenai masalah nuklir dan pengangkatan sanksi," ujarnya. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance akan mewakili Washington, dengan kemungkinan kehadiran Presiden Donald Trump.
Nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Trump, Vance, dan negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membuka jalan bagi negosiasi 60 hari ke depan. Salah satu poin krusial adalah pembukaan Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade Iran. Trump mengklaim kapal-kapal sudah mulai bergerak membawa minyak keluar dari selat tersebut, memberikan dorongan bagi ekonomi global.
Namun, kesepakatan komprehensif masih menghadapi hambatan serius. Washington dan Israel mendesak Iran untuk menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya tinggi, yang disebut telah dikubur oleh serangan AS tahun lalu. Iran bersikeras pada haknya untuk memperkaya uranium. Trump mengindikasikan bahwa AS masih bernegosiasi mengenai jangka waktu penghentian pengayaan, dengan opsi 20 atau 15 tahun.
Reaksi di Iran beragam. Militer Iran menyebut kesepakatan sebagai kemenangan yang "mempermalukan" AS dan Israel, sementara surat kabar ultra-konservatif Vatan-e Emrooz memujinya sebagai "dokumen penyerahan Trump". Namun Araghchi mengingatkan sejarah pengingkaran janji. "Kami memiliki sejarah komitmen yang dilanggar... semua itu ada dalam pikiran kami," katanya.
Analis memperingatkan bahwa konflik paralel di Lebanon antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran menjadi ancaman terbesar bagi diplomasi ini. Ross Harrison dari Middle East Institute menyebut teater konflik itu sebagai "pengacau utama" potensial. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutuk kesepakatan tersebut dan berjanji pasukannya akan tetap berada di Gaza, Lebanon, dan Suriah selama yang diperlukan.
Araghchi menegaskan bahwa mengakhiri perang di semua lini, termasuk Lebanon, adalah "masalah terpenting" dalam nota kesepahaman. "Setiap serangan militer oleh rezim Zionis terhadap Lebanon mulai sekarang dan pendudukan berkelanjutan atas wilayah Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran nota kesepahaman," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara pengimpor minyak, stabilitas Selat Hormuz sangat memengaruhi harga energi domestik. Selain itu, Indonesia yang selama ini vokal mendukung kemerdekaan Palestina perlu mencermati dinamika baru di Timur Tengah, terutama terkait peran Iran dan Hizbullah. Pertanyaan besarnya: akankah kesepakatan ini benar-benar mengakhiri siklus kekerasan, atau hanya jeda sementara sebelum konflik berikutnya?



