Kisah Bek Irlandia yang Bela Cape Verde di Piala Dunia: Mimpi yang Jadi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah Shamrock Rovers, Roberto 'Pico' Lopes, akan menjadi pemain Liga Irlandia pertama yang tampil di Piala Dunia 2026 setelah masuk skuad Cape Verde.
- Lopes, yang lahir di Dublin dari ayah Cape Verde dan ibu Irlandia, memilih membela negara asal ayahnya dan debut pada 2019.
- Rekan setimnya, Lee Grace, menyebut perjuangan Lopes sebagai inspirasi bagi Liga Irlandia dan bukti bahwa talenta lokal bisa bersinar di panggung global.

Seorang bek tengah asal Irlandia yang membela Cape Verde di Piala Dunia 2026 menjadi sorotan setelah rekan setimnya mengungkapkan kebanggaan dan dukungan penuh. Roberto 'Pico' Lopes, kapten Shamrock Rovers, akan menjadi pemain pertama dari Liga Irlandia yang tampil di turnamen sepak bola terbesar dunia, mewakili negara kepulauan kecil di Afrika Barat.
Lopes, 33 tahun, lahir di Dublin dari pasangan ayah berkebangsaan Cape Verde dan ibu Irlandia. Ia memutuskan membela negara asal ayahnya pada 2019 setelah sempat memperkuat tim U-19 Republik Irlandia pada 2011. Keputusan ini membawanya ke panggung Piala Dunia, sesuatu yang langka bagi pemain yang berkarir di Liga Irlandia.
Rekan duetnya di lini belakang Shamrock Rovers, Lee Grace, tak bisa menyembunyikan rasa bangga. "Dia pemain brilian, seorang pemimpin sejati. Sejak sebelum menjadi kapten, dia sudah memberi teladan dalam latihan. Melihatnya sekarang bermain di panggung terbesar adalah kebahagiaan bagi kami semua," ujar Grace kepada BBC Sport.
Lopes dan Grace telah membentuk kemitraan kokoh sejak 2017, membawa Shamrock Rovers meraih lima gelar Premier Division dan dua Piala FAI, serta dua kali tampil di UEFA Conference League. Perjalanan hampir satu dekade ini membuat Grace sangat memahami perjuangan rekannya.
Grace juga menekankan bahwa dukungan tidak hanya datang dari fans Shamrock Rovers, tetapi dari seluruh Liga Irlandia dan masyarakat Irlandia. "Dia mewakili liga ini dan juga Irlandia. Banyak bendera Cape Verde berkibar di stadion saat pertandingan perpisahannya. Ini menjadi sesuatu yang bisa kita banggakan di panggung dunia," tambahnya.
Bagi Indonesia, kisah Lopes memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya diaspora dan kebanggaan ganda. Banyak pemain keturunan Indonesia di luar negeri yang memiliki potensi serupa, namun belum termanfaatkan secara optimal. Keberhasilan Lopes menunjukkan bahwa pemain dari liga yang tidak terlalu populer pun bisa bersinar jika diberi kesempatan.
Cape Verde memulai petualangan mereka di Grup H melawan Spanyol pada 15 Juni, disusul Uruguay pada 21 Juni, dan Arab Saudi pada 27 Juni. Grace berencana mengatur jadwal tidurnya untuk menonton pertandingan-pertandingan tersebut. "Pertandingan pertama jam 5 sore tidak masalah, yang jam 10 malam juga oke. Tapi yang jam 1 pagi, saya lihat nanti masih bangun atau tidak," candanya.
Terlepas dari hasil akhir, Grace menegaskan bahwa Lopes telah mewujudkan mimpi setiap pemain. "Menang atau kalah, dia sudah bermain di panggung terbesar. Itu mimpi yang jadi nyata," pungkasnya. Pertanyaannya kini: akankah kisah Lopes menginspirasi lebih banyak pemain dari liga-liga kecil untuk mengejar mimpi serupa?



