Kapten Baru Jepang Itakura: Bek Ajax Itu Siap Satukan Tim Usai Kepergian Endo
Baca dalam 60 detik
- Ko Itakura resmi memegang ban kapten Jepang menjelang laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Belanda, menggantikan Wataru Endo yang hengkang.
- Bek Ajax itu menggelar pertemuan khusus dengan seluruh skuad untuk meredakan kecemasan pemain muda dan memperkuat kohesi tim.
- Jepang hanya sekali bertemu Belanda di Piala Dunia (2010) dan kalah 1-0; kini mereka harus membalikkan sejarah dengan pertahanan solid.

Ko Itakura, bek Ajax Amsterdam yang baru ditunjuk sebagai kapten tim nasional Jepang, bertekad merajut kembali kekompakan skuad Samurai Blue menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Belanda, Minggu (15/6). Kepergian mendadak kapten sebelumnya, Wataru Endo, sempat menggoncang persiapan tim di Nashville, Tennessee, namun Itakura langsung mengambil alih kendali dengan menginisiasi pertemuan internal di Dallas.
Dalam sesi latihan terakhir sebelum bertolak ke Dallas, Jumat (13/6) waktu setempat, Itakura mengungkapkan bahwa ia akan menggelar pertemuan dengan seluruh anggota tim—termasuk Shuto Machino yang dipanggil menggantikan Endo—begitu tiba di Dallas. “Kami menjalani latihan dengan intensitas tinggi dan suasana hati mulai membaik, tapi kami masih perlu meningkatkan rasa kebersamaan,” ujar pemain berusia 29 tahun itu.
Setengah dari 26 pemain yang dibawa pelatih Hajime Moriyasu ke Amerika Serikat adalah debutan Piala Dunia. Itakura, yang empat tahun lalu merasakan pengalaman serupa di Qatar, menegaskan bahwa para pemain senior harus menjadi penentu arah. “Saya ingin menghilangkan sebanyak mungkin kecemasan sebelum pertandingan pertama dan berbagi apa yang dipikirkan semua orang,” katanya. “Para pemain senior menciptakan atmosfer tertentu dalam rapat di turnamen sebelumnya, dan itu hanya diketahui oleh mereka yang mengalaminya.”
Itakura juga menekankan pentingnya fundamental pertahanan saat menghadapi Belanda, negara tempatnya bermain sehari-hari. “Kami tidak boleh memberi mereka ruang untuk dieksploitasi. Kami sangat memahami kualitas pemain mereka setelah menganalisis masing-masing secara individu, dan kami telah berlatih cara menghadapinya,” tegasnya. “Detail kecil bisa menentukan hasil pertandingan. Sebelum masuk ke taktik, kami harus menguasai dasar-dasar seperti duel satu lawan satu dan bola kedua.”
Bagi Indonesia, perjalanan Jepang di Piala Dunia 2026 menjadi cermin bagaimana sebuah tim Asia membangun mentalitas kompetitif di panggung global. Dengan skuad yang separuhnya belum berpengalaman, kepemimpinan Itakura mengingatkan pada pentingnya kapten yang mampu menjadi jembatan antara pemain senior dan junior—pelajaran yang relevan bagi pengembangan sepak bola nasional. Apakah Jepang mampu mengulang kejutan seperti saat mengalahkan Jerman dan Spanyol di Qatar 2022, atau justru tersandung di laga perdana melawan Belanda? Jawabannya akan terlihat di Dallas Stadium, Minggu nanti.



