Kuota Pemain Asing Super League Tetap 11, Klub yang Banyak Mainkan Pemain Lokal Dapat Bonus Dana
Baca dalam 60 detik
- Erick Thohir memastikan kuota pemain asing Super League musim depan masih 11 pemain per klub, dengan maksimal tujuh bermain di lapangan.
- I.League memberikan insentif finansial tambahan bagi klub yang lebih banyak menurunkan pemain Indonesia, sebagai upaya menyeimbangkan daya saing dan pembinaan lokal.
- Kebijakan ini diambil di tengah tekanan persaingan regional Asia yang longgar terhadap pemain asing, sementara Championship menerapkan aturan ketat untuk pengembangan talenta muda.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6718602/original/081755600_1779534644-BL1_1011.jpg.jpeg)
Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menegaskan bahwa kuota pemain asing untuk Super League Indonesia musim 2026/2027 tidak berubah: setiap klub masih boleh mendaftarkan sebelas legiun impor, dengan sembilan masuk daftar susunan pemain dan tujuh yang benar-benar turun ke lapangan. Namun, di balik angka itu, ada insentif baru yang dirancang untuk mendorong klub agar lebih banyak memberi menit bermain kepada pemain lokal.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Senin (15/6/2026), Erick mengungkapkan bahwa I.League—operator kompetisi—telah menyiapkan dana tambahan bagi klub-klub Super League yang memainkan lebih banyak pemain Indonesia. “Mereka akan ditambahkan pendanaan uang tambahan,” ujarnya. Langkah ini menjadi kompromi antara kebutuhan menjaga daya saing di level Asia dan kewajiban mengembangkan talenta dalam negeri.
Erick menjelaskan bahwa regulasi di dua kasta kompetisi memang berbeda. Untuk Championship, PSSI menerapkan aturan ketat: hanya tiga pemain asing, kewajiban memainkan pemain U-21 minimal 90 menit secara kumulatif, dan pelatih harus lokal. Sebaliknya, Super League menghadapi kompleksitas karena klub-klub Asia Tenggara dan Asia tidak membatasi jumlah pemain asing. “Kalau kita tidak mengikuti, kompetisi kita terus merosot,” kata Erick.
Meski demikian, Erick mengklaim kualitas Super League terus meningkat. Dari peringkat ke-25 Asia beberapa tahun lalu, kini naik ke posisi 16 besar. Namun, data resmi AFC musim 2025/2026 menempatkan Liga Indonesia di peringkat ke-20—menunjukkan masih ada pekerjaan rumah yang berat. Target berikutnya adalah menembus 10 besar Asia, sebuah ambisi yang membutuhkan keseimbangan antara kekuatan impor dan kontribusi pemain lokal.
Raker yang digelar untuk membahas naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker itu juga menyoroti dampak dominasi pemain asing terhadap pembinaan usia muda. Anggota Komisi X mempertanyakan apakah kuota sebelas pemain asing tidak menghambat munculnya bakat lokal. Erick menjawab bahwa insentif finansial menjadi jawaban: klub tetap bisa bersaing di Asia, tetapi juga mendapat imbalan jika memberi porsi lebih pada pemain Indonesia.
Kebijakan ini menuai respons beragam. Di satu sisi, klub-klub papan atas yang bergantung pada pemain asing mungkin tidak terpengaruh secara signifikan. Di sisi lain, klub dengan basis lokal kuat bisa memanfaatkan insentif untuk menambah pendanaan. Pertanyaan besarnya: apakah insentif tersebut cukup besar untuk mengubah perilaku klub, atau hanya menjadi tempelan di tengah gempuran komersialisasi sepak bola Asia?



