Jember Tumbuh 6,35 Persen di Kuartal I, Ungguli Jatim dan Nasional: Apa Kuncinya?
Baca dalam 60 detik
- Kabupaten Jember mencatat pertumbuhan ekonomi 6,35% pada kuartal pertama 2025, tertinggi di kawasan eks-Karesidenan Besuki dan melampaui rata-rata provinsi serta nasional.
- Keberhasilan ini didorong oleh percepatan realisasi APBD yang difokuskan pada sektor produktif seperti ketahanan pangan, UMKM, dan infrastruktur, serta efisiensi birokrasi.
- Capaian tersebut menempatkan Jember sebagai lokomotif ekonomi baru di Jawa Timur bagian timur, dengan potensi menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan fiskal daerah.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256731/original/089453000_1781166386-37b6a0c1-5caf-4843-bd02-cf34946e14d2.jpeg)
Kabupaten Jember menorehkan catatan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,35 persen pada kuartal pertama tahun ini, melampaui capaian Provinsi Jawa Timur (5,96 persen) dan nasional (5,61 persen). Angka tersebut sekaligus menjadikan Jember sebagai daerah dengan laju ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang dan wilayah eks-Karesidenan Besuki.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan Jember unggul tipis dari Banyuwangi (6,14 persen), Lumajang (5,89 persen), Situbondo (5,50 persen), dan Bondowoso (5,42 persen). Selisih 0,39 poin di atas rata-rata Jawa Timur dan 0,74 poin di atas nasional menunjukkan bahwa lompatan ini bukan sekadar keberuntungan musiman.
Pemerintah Kabupaten Jember mengaitkan capaian ini dengan strategi intervensi anggaran yang lebih terarah. Realisasi APBD yang dipercepat sejak awal tahun, ditambah efisiensi birokrasi, memastikan belanja daerah langsung menyentuh sektor-sektor produktif. Program ketahanan pangan, stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta percepatan proyek infrastruktur strategis menjadi motor utama yang mendorong daya beli masyarakat.
Menurut analis ekonomi daerah, keberhasilan Jember menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal yang responsif dapat menjadi katalis pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. "Percepatan belanja modal dan belanja barang sejak awal tahun memberikan efek multiplier yang cepat bagi ekonomi lokal," ujar seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Jember, yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa fokus pada sektor riil, bukan sekadar belanja rutin, menjadi pembeda utama.
Bagi Indonesia, capaian Jember memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya desentralisasi fiskal yang efektif. Di saat banyak daerah masih bergulat dengan realisasi anggaran yang lambat, Jember membuktikan bahwa percepatan belanja produktif dapat mendorong pertumbuhan di atas rata-rata. Hal ini juga relevan bagi investor yang mencari daerah dengan iklim usaha kondusif di luar Pulau Jawa bagian barat.
Dengan momentum kuartal pertama yang kokoh, Jember kini dipandang sebagai lokomotif ekonomi baru di kawasan timur Jawa Timur. Pemerintah setempat berkomitmen menjaga akuntabilitas anggaran dan akselerasi program agar tren positif ini berlanjut. Pertanyaannya, dapatkah Jember mempertahankan laju ini hingga akhir tahun di tengah tekanan harga pangan dan daya beli yang masih rapuh?



