IHSG Melonjak 3% di Awal Pekan, Kesepakatan Damai AS-Iran Picu Reli Pasar
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka terbang 3,01% ke level 6.191,21 pada Senin (15/6) setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai yang membuka kembali Selat Hormuz.
- Kesepakatan tersebut memicu penurunan harga minyak dunia hingga 4,77% dan mendorong reli di bursa Asia, dengan Kospi Korea Selatan naik 5,1% dan Nikkei Jepang menguat 3,6%.
- Bagi Indonesia, normalisasi pasokan minyak dan meredanya ketegangan geopolitik berpotensi menekan inflasi dan memperkuat rupiah, namun investor masih menanti rapat suku bunga BI dan The Fed pekan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 3% pada pembukaan perdagangan Senin (15/6/2026), mencatatkan reli terkuat dalam beberapa bulan terakhir setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Dalam hitungan menit setelah bel berbunyi, IHSG menyentuh level 6.191,21, menguat 3,01% dari penutupan pekan lalu di 6.007,66.
Kesepakatan damai yang dimediasi oleh Pakistan itu langsung disambut gegap gempita oleh pasar keuangan global. Harga minyak mentah dunia ambruk lebih dari 4%—kontrak berjangka minyak AS untuk Juli turun 4,77% ke US$80,83 per barel, sementara Brent untuk Agustus merosot sekitar 4% ke US$83,77 per barel. Penurunan ini menjadi angin segar bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, yang selama sepekan terakhir harus menanggung beban kenaikan harga energi akibat blokade di Selat Hormuz.
Di Asia, euforia terpantau sangat kuat. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin dengan kenaikan 5,1%, disusul Nikkei 225 Jepang yang naik 3,6% dan Topix menguat 2,6%. S&P/ASX 200 Australia juga ikut terdongkrak 1,3%. Investor regional memandang kesepakatan ini sebagai titik balik yang meredakan ketegangan geopolitik sekaligus membuka kembali jalur pasokan minyak yang selama ini tersumbat. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz sebelum lalu lintas kapal tanker anjlok drastis pada awal Maret akibat serangan Iran.
Bagi Indonesia, dampak kesepakatan ini tidak hanya dirasakan di lantai bursa. Penurunan harga minyak berpotensi menekan inflasi yang selama ini tertekan oleh kenaikan biaya transportasi dan bahan pokok. Rupiah juga diperkirakan akan menguat seiring meredanya ketidakpastian global. Namun, investor tetap waspada. Pekan ini, Bank Indonesia dan The Federal Reserve akan menggelar rapat suku bunga yang bisa mengubah arah aliran modal. Data konsumsi AS dan indikator ekonomi China—barometer permintaan komoditas dunia—juga akan menjadi sorotan. Bagi Indonesia, kombinasi data tersebut akan menentukan pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, serta prospek komoditas andalan seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO).
Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi saham paling ramai ditransaksikan, menandakan optimisme investor terhadap sektor keuangan yang diuntungkan oleh stabilitas makroekonomi. Saham TPIA dan BUMI juga mencatat volume tinggi, mencerminkan minat pada sektor energi dan komoditas yang langsung terpapar oleh pergerakan harga minyak.
Presiden AS Donald Trump, dalam unggahan di media sosial, mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka pada Jumat mendatang bertepatan dengan upacara penandatanganan perjanjian damai di Swiss. "Dengan dibukanya Selat Hormuz... minyak akan mengalir kembali di kedua ujungnya bagi kawasan ini, dan dunia!" tulis Trump. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, menambahkan bahwa kedua belah pihak sepakat menghentikan segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli ini akan berkelanjutan atau hanya sekadar euforia jangka pendek. Pasar masih harus mencerna realitas bahwa ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya sirna, dan data ekonomi global masih rapuh. Namun untuk saat ini, investor Indonesia bisa bernapas lega: IHSG kembali ke jalur hijau, dan ancaman krisis energi mulai mereda.



