Harga Minyak Anjlok 5% Setelah Iran Buka Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan sementara AS-Iran memicu pembukaan kembali Selat Hormuz, mendorong harga minyak mentah Brent turun lebih dari 5% ke level 83,47 dolar AS per barel.
- Penurunan harga ini menguntungkan negara importir minyak seperti Indonesia, yang berpotensi mengurangi beban subsidi energi dan tekanan inflasi.
- Penandatanganan nota kesepahaman dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss, namun ketidakpastian masih membayangi karena ancaman Trump jika Iran tidak mematuhi kesepakatan nuklir.

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada Senin (17/6) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal yang membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya diblokade akibat konflik. Brent crude tercatat anjlok 5,5% ke posisi 83,47 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot ke 80,59 dolar AS.
Penurunan ini merupakan respons langsung terhadap pengumuman Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menyatakan bahwa AS dan Iran telah menyetujui penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon. Kesepakatan tersebut juga mencakup pencabutan blokade laut AS terhadap Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal dan pengiriman energi.
Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengonfirmasi kesepakatan itu dengan pernyataan provokatif: "Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan menjadi jalur bebas tol secara permanen. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman (MoU) akan ditandatangani secara resmi pada 19 Juni di Jenewa, Swiss.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak ini membawa angin segar. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap penurunan harga minyak mentah sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menghemat belanja subsidi energi hingga triliunan rupiah. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengalokasikan anggaran subsidi energi yang besar dalam APBN 2024, dan penurunan harga ini dapat mengurangi tekanan fiskal serta membantu mengendalikan inflasi.
Namun, analis mengingatkan bahwa kesepakatan ini masih bersifat sementara dan penuh ketidakpastian. Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Iran tidak mematuhi kesepakatan nuklir, atau menjadikan AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20% pendapatan regional. Ancaman ini menimbulkan keraguan apakah stabilitas harga minyak dapat bertahan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pembukaan Selat Hormuz secara langsung memengaruhi rantai pasok energi global. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini merupakan jalur transit bagi seperlima konsumsi minyak dunia. Dengan dibukanya kembali jalur tersebut, pasokan minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait dapat mengalir lebih lancar, menekan harga lebih lanjut.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah kesepakatan ini akan benar-benar bertahan, atau hanya menjadi jeda sementara sebelum ketegangan kembali memuncak? Dengan jadwal penandatanganan yang tinggal beberapa hari lagi, pasar akan mencermati setiap perkembangan dari Jenewa. Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan energi domestik, namun juga pengingat akan kerentanan terhadap gejolak geopolitik global.



