Gencatan Senjata Iran Tak Otomatis Pulihkan Pasokan Minyak, Butuh Berbulan-bulan
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan gencatan senjata Iran membuka Selat Hormuz, namun pemulihan pasokan minyak global diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan karena kapal-kapal masih terdampar dan produksi terhenti.
- Para ahli memperingatkan bahwa ketidakpastian keamanan, lambatnya proses pengiriman dan penyulingan, serta investasi yang terhenti akan menghambat kembalinya pasokan normal.
- Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan harga BBM dan gangguan pasokan lebih lanjut jika pemulihan berlarut-larut, mengingat ketergantungan pada impor minyak mentah dari kawasan Teluk.

Kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, yang diumumkan pada Minggu (15/6), tidak akan serta-merta menyelesaikan lonjakan harga minyak dan bensin dunia. Para pakar energi memperingatkan bahwa butuh waktu berbulan-bulan bagi perusahaan energi untuk memulihkan operasi hingga mampu memenuhi permintaan global.
Selat Hormuz, jalur air yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan bensin dunia sebelum perang, telah menjadi zona berbahaya selama lebih dari tiga bulan. Ratusan kapal tanker berisi minyak mentah kini terdampar di Teluk Persia, menunggu kepastian keamanan untuk melanjutkan perjalanan. Proses evakuasi dan pengiriman ulang diperkirakan berjalan lambat, diperparah oleh keraguan akan stabilitas gencatan senjata jangka panjang.
Daniel Evans, kepala riset bahan bakar dan penyulingan global di S&P Global Energy, menjelaskan bahwa langkah pertama adalah mengeluarkan kapal-kapal yang terdampar dari selat, baru kemudian kapal tanker baru bisa masuk untuk dimuati. "Untuk membawa kapal masuk, Anda harus yakin ada jendela keamanan yang cukup lebar untuk memuat dan mengeluarkannya," ujarnya. Kapal tanker minyak bergerak lambat; perjalanan dari selat ke negara tujuan, penyulingan, hingga distribusi akhir bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Selain masalah logistik, sejumlah produsen minyak di Timur Tengah terpaksa menghentikan produksi (shut-in) karena kehabisan tempat penyimpanan. Memulai kembali operasi ini bukanlah proses instan. Alan Gelder, wakil presiden senior riset penyulingan, kimia, dan pasar minyak di Wood Mackenzie, menilai Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jalur pipa alternatif mungkin bisa pulih lebih cepat. Namun, "Irak akan jauh lebih terhambat karena mereka mengalami shut-in yang lebih besar dan ladangnya lebih sulit—mungkin butuh waktu sekitar setahun untuk kembali normal," katanya.
Investasi di sektor energi, yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuahkan hasil, praktis terhenti selama penutupan selat. Gelder menambahkan bahwa modal tersebut butuh waktu untuk mengalir kembali. Sementara itu, negara-negara yang menghentikan produksi tidak akan bersedia memulai lagi sebelum ada jaminan bahwa selat aman dan gencatan senjata bertahan lebih dari 30 atau 60 hari. "Kami tidak tahu apa arti 'terbuka' atau seberapa cepat evakuasi material yang terperangkap akan berlangsung," kata Daniel Sternoff, peneliti senior di Center on Global Energy Policy Universitas Columbia.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan kerentanan pasokan energi nasional. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk. Jika pemulihan pasokan berlarut-larut, harga BBM di dalam negeri berpotensi terus tertekan, memperburuk inflasi dan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan mempercepat diversifikasi sumber impor dan meningkatkan cadangan strategis, meskipun langkah-langkah itu tidak akan berdampak dalam jangka pendek.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata ini cukup kokoh untuk mendorong investasi dan produksi kembali bergairah. Tanpa kepastian politik yang berkelanjutan, pasar energi global mungkin harus bersiap menghadapi volatilitas harga yang berkepanjangan—dan Indonesia harus ikut menanggung risikonya.



