Dilema Suporter Kanada di Piala Dunia: Antara Dua Identitas, Satu Semangat
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 35% penduduk Kanada memiliki latar belakang multietnis, menciptakan fenomena unik saat timnas mereka bertemu negara asal di Piala Dunia.
- Bosnia yang mengalahkan Italia di babak kualifikasi memicu kegembiraan sekaligus konflik loyalitas bagi diaspora Bosnia-Kanada.
- Meski antusiasme tinggi, harga tiket mahal dan daya beli rendah membuat banyak pertandingan di Kanada belum laku terjual.

Ketika Kanada untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Piala Dunia, warga keturunan imigran seperti Nikola Vukelic menghadapi dilema unik: mendukung tim nasional negara kelahiran atau negara tempat mereka tinggal. Vukelic, yang lahir di Bosnia dan tinggal di Toronto sejak 1999, memilih jalan tengah dengan mengenakan jersey Bosnia dipadu celana pendek Kanada saat menonton pertandingan pembuka melawan Bosnia.
Fenomena ini mencerminkan realitas demografis Kanada: lebih dari 35% populasi—sekitar 13 juta jiwa—memiliki lebih dari satu latar belakang etnis atau budaya, menurut sensus terakhir. Di kota-kota tuan rumah seperti Toronto dan Vancouver, keragaman itu terlihat jelas. Suporter Turki menggelar pesta nonton di bar Australia, komunitas Balkan berkumpul di tempat parkir toko makanan khas, dan warga Irak memadati lounge hookah—semua dalam semangat Piala Dunia.
Bagi Adis dan Amir Mrakovic, pemilik Mrakovic Fine Foods di Etobicoke, laga Kanada versus Bosnia adalah "badai sempurna". Keduanya tiba di Kanada pada 1994 dan sejak itu membangun bisnis yang menjadi ikon komunitas Balkan. Ketika Bosnia mengalahkan Italia lewat adu penalti pada 31 Maret lalu—sebuah hasil yang mereka sebut "mengejutkan"—mereka segera merencanakan pesta nonton besar-besaran di luar toko. "Kami merasa berkewajiban untuk menyatukan orang," ujar Adis. Amir menambahkan, skenario terbaik adalah hasil imbang.
Di Little Italy, Toronto, kekalahan Italia menyisakan kekecewaan mendalam. Banyak warga keturunan Italia berharap melihat leluhur mereka bertemu Kanada. Sepekan setelah laga, puluhan orang antre di Cafe Diplomatico untuk menukar jersey Italia dengan Kanada. Namun panitia justru mengizinkan mereka menyimpan kedua jersey—keputusan yang membuat beberapa orang menangis. "Sangat langka bisa memiliki lebih dari satu rumah di hati," kata Paulo Senra, juru bicara Canada Soccer.
Di Vancouver, rivalitas Australia dan Turki tak menghalangi mereka duduk bersama di bar yang sama, dipandu oleh band lokal Istanbul the Band. "Inilah identitas Kanada," ujar Ilyas Kayran, anggota band tersebut. Bahkan tim nasional Kanada sendiri adalah cermin keberagaman: kapten Alphonso Davies lahir di kamp pengungsi Ghana sebelum keluarganya pindah ke Edmonton.
Meski peran Kanada sebagai tuan rumah paling kecil—hanya dua kota dibanding Meksiko tiga dan AS 11—biaya yang dikeluarkan tetap besar. Kantor Anggaran Parlemen memperkirakan beban pembayar pajak mencapai C$1 miliar. Harga tiket yang mahal memicu kritik, apalagi di tengah tingginya biaya hidup. Ratusan tiket di Vancouver dan Toronto masih tersisa, dan permintaan hotel serta Airbnb lebih rendah dari perkiraan.
Namun pejabat Kanada tetap optimistis. Adam van Koeverden, Sekretaris Negara untuk Olahraga, menyebut Piala Dunia sebagai "kesempatan sekali dalam satu generasi". Vukelic, yang tak mampu membeli tiket pertandingan Bosnia vs Kanada, tetap menikmati atmosfer. "Satu-satunya yang perlu diwaspadai adalah kemacetan. Selain itu, Toronto siap," katanya. Pertanyaannya, akankah semangat multikultural ini cukup untuk mengisi stadion dan menutup biaya besar yang telah dikeluarkan?



