Dekranas Gandeng Komdigi: Standardisasi Konten Jadi Kunci Promosi Kerajinan Nasional
Baca dalam 60 detik
- Dekranas berkolaborasi dengan Kementerian Komdigi untuk menyusun standar baku konten media sosial guna memperkuat promosi kerajinan nasional.
- Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian menekankan pentingnya keseragaman materi publikasi agar informasi lebih efektif dan menjangkau masyarakat luas.
- Langkah ini diharapkan membuka akses lebih besar bagi perajin yang selama ini belum terdata oleh kementerian atau lembaga terkait.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256977/original/087912500_1781180204-Pelatihan_Standardisasi_Pembuatan_Konten_Media_Sosial_Dekranas_di_Rumah_Kriya_Asri.jpeg)
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memulai langkah strategis dengan menyusun standar baku konten media sosial. Inisiatif ini bertujuan memperkuat citra dan jangkauan promosi produk kerajinan Indonesia di tengah persaingan informasi digital yang kian ketat.
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian menyebutkan bahwa pengelolaan komunikasi publik yang baik menjadi fondasi utama dalam memperluas gaung kerajinan nasional. Menurutnya, tanpa strategi publikasi yang terpadu, potensi besar sektor kerajinan bisa tenggelam di tengah banjir informasi digital. Oleh karena itu, Dekranas menggandeng Komdigi untuk menciptakan standardisasi konten dan memperkuat kapasitas komunikasi internal organisasi.
Dalam pelatihan Standardisasi Pembuatan Konten Media Sosial Dekranas di Rumah Kriya Asri, Jakarta Selatan, Tri Tito mengajak seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan momentum ini. "Mari kita bersama-sama memanfaatkan kesempatan yang diberikan Kementerian Komdigi untuk memberikan informasi seluas-luasnya tentang kegiatan kerajinan dari kementerian dan lembaga masing-masing," ujarnya. Pelatihan ini diharapkan menciptakan pemahaman seragam dalam menyusun materi komunikasi, sehingga proses pengelolaan informasi lebih efektif dan konten yang dihasilkan lebih berkualitas.
Tri Tito juga menekankan optimalisasi media sosial dan website Dekranas sebagai saluran utama promosi. "Kita harapkan pengelolaan media sosial kita, selain website, juga dari media-media sosial lainnya bisa lebih ditingkatkan," katanya. Langkah ini dinilai krusial agar program dan kegiatan Dekranas dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, sekaligus memperkuat eksistensi kerajinan nasional di pasar domestik dan global.
Lebih jauh, Tri Tito menyoroti pentingnya sinergi dengan kementerian dan lembaga dalam pembinaan sektor kerajinan. Ia berharap Dekranas daerah (Dekranasda) dapat berperan aktif memberikan masukan dan membuka akses bagi perajin yang selama ini tidak termonitor oleh kementerian terkait. "Dekranasda bisa memberikan masukan ataupun memberikan kesempatan kepada perajin-perajin yang mungkin tidak termonitor atau tidak tertampung di kementerian dan lembaga untuk pembinaannya," pungkasnya.
Bagi Indonesia, langkah ini menjadi angin segar bagi ekosistem kerajinan yang selama ini kerap terkendala masalah pemasaran dan dokumentasi. Dengan standar konten yang jelas, diharapkan produk kerajinan dari berbagai daerah bisa lebih mudah dikenal, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar internasional. Pertanyaannya, sejauh mana konsistensi implementasi standar ini mampu mengubah wajah promosi kerajinan nasional dalam jangka panjang?



