1 dari 5 Ibu di Jepang Berhenti Bekerja karena Anak Mogok Sekolah: Beban Berlipat pada Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Survei nasional di Jepang mengungkapkan bahwa satu dari lima ibu memilih berhenti bekerja setelah anaknya tidak mau bersekolah, sementara ayah hanya 0,7 persen.
- Beban ganda menimpa ibu: selain harus mengurus anak, mereka juga mengalami stres, insomnia, dan tekanan finansial akibat pengeluaran meningkat dan pendapatan menurun.
- Pendiri lembaga swadaya Key Design menyerukan perusahaan dan masyarakat untuk memberikan dukungan agar orang tua tidak terpaksa keluar dari pekerjaan.

Sebanyak satu dari lima ibu di Jepang terpaksa meninggalkan pekerjaan setelah anak mereka menolak atau enggan bersekolah—angka yang 30 kali lipat lebih tinggi dibandingkan ayah. Temuan ini berasal dari survei nasional yang dirilis oleh organisasi nirlaba Key Design, yang mengkhususkan diri pada pendampingan keluarga dengan masalah ketidakhadiran sekolah.
Survei yang dilakukan pada April hingga Mei 2026 ini melibatkan 1.234 orang tua dari 46 prefektur. Mereka ditanyai tentang kondisi anak, kesejahteraan fisik dan mental orang tua, dampak terhadap pekerjaan, serta beban keuangan rumah tangga. Hasilnya menunjukkan bahwa 95,4 persen responden mengaku sangat sulit menyeimbangkan pekerjaan dan situasi anak; bahkan 84,1 persen pernah berpikir untuk berhenti bekerja.
Beban terberat jatuh pada ibu. Saat ditanya dampak spesifik terhadap pekerjaan, 35,9 persen ibu menjawab sering terlambat, pulang lebih awal, atau absen; 27,4 persen kesulitan berkonsentrasi karena terus-menerus khawatir pada anak; dan 19,9 persen—setara 241 ibu—akhirnya berhenti bekerja. Sebaliknya, hanya delapan ayah (0,7 persen) yang mengaku berhenti kerja. Para ibu yang mengambil cuti panjang atau keluar kerja menggambarkan situasi darurat: "Saya merasa kosong, seperti ditinggalkan masyarakat," dan "Saya ingin tetap bekerja, tapi kondisi anak membuat saya tak bisa meninggalkannya sendirian."
Kondisi anak-anak juga mengkhawatirkan. Dari 1.234 responden, 481 melaporkan anak mereka pernah mengungkapkan keinginan untuk "mati" atau "menghilang", sementara 190 anak melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Menurut Key Design, banyak orang tua tetap bekerja sambil menangani kondisi serius anak, berkomunikasi dengan sekolah, dan mencari organisasi pendukung. Akibatnya, 93,9 persen ibu melaporkan stres berkepanjangan, insomnia, dan masalah kesehatan lainnya.
Beban ekonomi disebut sebagai "pukulan ganda": pendapatan turun karena perubahan pola kerja, sementara pengeluaran membengkak oleh biaya sekolah swasta alternatif (free school), konsultasi medis, dan lainnya. Lebih dari separuh responden mengaku penghasilan rumah tangga berkurang, dan hampir 80 persen mengeluarkan biaya tambahan. Situasi ini memperparah tekanan psikologis yang sudah berat.
Konteks Indonesia
Fenomena anak tidak mau bersekolah (school refusal) juga menjadi perhatian di Indonesia, meski data nasional masih terbatas. Beberapa studi lokal menunjukkan bahwa ibu sering menjadi pihak yang paling terdampak, karena budaya patriarki masih menempatkan tanggung jawab utama pengasuhan pada perempuan. Minimnya kebijakan cuti orang tua dan dukungan psikologis di tempat kerja membuat ibu rentan kehilangan pekerjaan. Temuan dari Jepang dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mendorong perusahaan dan pemerintah menyediakan layanan konseling, jam kerja fleksibel, dan jaring pengaman bagi keluarga yang menghadapi masalah ini.
Sejak 2020, Key Design mengoperasikan layanan konseling daring melalui aplikasi Line bernama "Mothers' health room" khusus orang tua dengan anak mogok sekolah. Organisasi ini juga bekerja sama dengan perusahaan besar dan pemerintah daerah untuk menyusun sistem pelatihan dan pendampingan. Yuhei Dobashi, direktur perwakilan Key Design, menekankan pentingnya pemahaman masyarakat dan perusahaan. "Jika orang tua bisa dicegah untuk berhenti kerja dan keuangan rumah tangga stabil, pilihan pendidikan seperti free school juga akan meluas," ujarnya. Ia mendesak penciptaan lingkungan yang memungkinkan orang tua tetap bekerja sambil mendukung anak.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah perusahaan dan pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan merespons temuan ini dengan kebijakan konkret? Ataukah ibu akan terus menjadi korban diam dari sistem yang tidak ramah pada keluarga?



