Wamen LH Desak Korporasi Tanam Pohon dan Mangrove untuk Perbaiki Kualitas Udara
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengajak perusahaan berpartisipasi dalam penanaman pohon dan mangrove guna menekan polusi udara.
- Luas hutan mangrove Indonesia susut 23 persen dalam beberapa tahun terakhir, dari 4,4 juta hektare menjadi 3,4 juta hektare.
- Fenomena El Nino diprediksi memperparah konsentrasi partikel berbahaya di udara, membuat aksi hijau korporasi kian mendesak.

Pemerintah melalui Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mendesak sektor bisnis untuk turut serta dalam program penanaman pohon dan mangrove sebagai langkah strategis memperbaiki kualitas udara nasional. Seruan ini disampaikan di tengah ancaman penyusutan ekosistem mangrove dan potensi cuaca ekstrem akibat El Nino yang dapat memperburuk polusi.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/7), Diaz menekankan bahwa peran dunia usaha tidak bisa diabaikan dalam upaya rehabilitasi lingkungan. Ia mengingatkan bahwa setiap orang membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari, sementara satu pohon dewasa mampu menyediakan 1,2 kilogram oksigen. Artinya, setiap individu memerlukan setidaknya satu hingga dua pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigen harian. “Keterlibatan korporasi sangat penting karena mereka memiliki sumber daya dan skala yang lebih besar,” ujarnya.
Fokus utama imbauan ini adalah pada ekosistem mangrove yang terus menyusut. Data yang disampaikan Diaz menunjukkan luas mangrove Indonesia kini tersisa 3,4 juta hektare, turun signifikan dari sebelumnya 4,4 juta hektare. Penyusutan ini mengancam fungsi mangrove sebagai penyerap karbon dan pelindung pesisir. “Ini pengingat bagi kita semua untuk segera bertindak,” kata Diaz dalam acara Gerak Hijau yang digelar pada Minggu (26/7).
Ancaman polusi udara semakin nyata dengan datangnya fenomena El Nino. Diaz memperkirakan konsentrasi partikel halus PM2.5 akan melonjak selama musim kemarau panjang, yang otomatis menaikkan Air Quality Index (AQI). “El Nino datang lagi dalam waktu dekat, kemungkinan lebih parah dibanding sebelumnya,” jelasnya. Kondisi ini membuat upaya penanaman pohon dan mangrove menjadi semakin relevan, karena vegetasi mampu menyaring polutan dan menyediakan oksigen segar.
Bagi Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, rehabilitasi mangrove juga memiliki implikasi ekonomi. Ekosistem ini melindungi pesisir dari abrasi, mendukung perikanan, dan menyerap karbon lebih efektif dibanding hutan tropis. Dunia usaha, terutama yang bergerak di sektor perkebunan, pertambangan, dan properti, diharapkan mengintegrasikan program penghijauan dalam rencana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka.
“Pohon secara umum memberikan oksigen yang kita butuhkan setiap harinya. Satu orang bisa butuh 1-2 pohon,” ujar Diaz dalam sebuah sesi diskusi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan komitmen korporasi berkelanjutan, bukan sekadar seremonial. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana dunia usaha akan merespons seruan pemerintah, dan apakah target penanaman pohon serta mangrove dapat dikejar sebelum dampak El Nino mencapai puncaknya?



