Polda Aceh Garap 40 Hektare Lahan Jagung Bersama Petani Muda: Ketahanan Pangan Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Kepolisian Daerah Aceh memulai program penanaman jagung di lahan seluas 40 hektare di Kabupaten Pidie, melibatkan komunitas petani milenial.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis global akibat perubahan iklim dan dinamika geopolitik.
- Keterlibatan generasi muda diharapkan mendorong modernisasi pertanian dan mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah.
Kepolisian Daerah Aceh turun langsung ke sawah bersama puluhan petani muda di Kabupaten Pidie, menanam jagung di lahan seluas 40 hektare sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional. Wakapolda Aceh, Ari Wahyu Widodo, yang mewakili Kapolda Marzuki Ali Basyah, memimpin langsung kegiatan di Desa Blang Lueun, Kecamatan Simpang Tiga, pada Minggu (14/6).
Program ini bukan sekadar seremoni. Di tengah tekanan perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, dan ketidakpastian geopolitik, kemampuan suatu daerah memproduksi pangannya sendiri menjadi isu strategis. “Negara yang kuat adalah negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara mandiri dan berkelanjutan,” kata Ari Wahyu Widodo membacakan amanat Kapolda Aceh.
Polda Aceh menilai sektor pertanian tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ketahanan pangan, menurut mereka, berkaitan erat dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan. Karena itu, kepolisian mengambil peran di luar tugas pokoknya—menjadi katalisator pembangunan desa melalui sektor agraris.
Yang menarik, program ini secara khusus menyasar petani muda. Wakapolda Aceh menyebut generasi milenial sebagai agen perubahan yang bisa membawa inovasi dan teknologi ke dunia pertanian. “Petani muda harus menjadi pelopor kebangkitan sektor pertanian di Aceh. Dengan semangat inovasi dan pemanfaatan teknologi, sektor pertanian akan semakin produktif dan mampu bersaing,” ujarnya.
Bagi Indonesia, langkah seperti ini memiliki arti penting. Aceh selama ini dikenal sebagai daerah dengan potensi pertanian yang besar, namun masih menghadapi tantangan regenerasi petani dan produktivitas lahan. Jika program serupa diperluas, bukan tidak mungkin Pidie menjadi salah satu sentra produksi jagung nasional. Apalagi, pemerintah pusat terus mendorong diversifikasi pangan dan pengurangan impor jagung.
Dalam kegiatan tersebut, Wakapolda Aceh bersama Ketua Bhayangkari Daerah Aceh, Ira Marzuki, dan jajaran pejabat utama Polda Aceh menyerahkan bantuan simbolis berupa bibit jagung, pupuk, dan ecoenzyme kepada kelompok tani. Bantuan ini diharapkan menjadi stimulan awal bagi petani untuk meningkatkan hasil panen.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi program. Apakah Polda Aceh akan melakukan pendampingan berkelanjutan atau sekadar menjadi proyek percontohan? Jawabannya akan menentukan apakah lahan 40 hektare ini benar-benar menjadi fondasi ketahanan pangan atau sekadar catatan seremonial.



