Revitalisasi Kota Tua: Trem Listrik dan Zona Rendah Emisi Disiapkan
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta berencana menghidupkan kembali trem listrik di kawasan Kota Tua sebagai bagian dari revitalisasi.
- Kawasan rendah emisi (LEZ) akan diterapkan untuk membatasi kendaraan bermotor dan mendukung pariwisata berkelas global.
- Proyek ini ditargetkan rampung pada 2029, berintegrasi dengan MRT, Transjakarta, dan Stasiun Jakarta Kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pengelola Kawasan Kota Tua tengah menyusun konsep revitalisasi yang ambisius: menghadirkan trem listrik dan menerapkan kawasan rendah emisi (Low Emission Zone/LEZ) untuk mengubah wajah destinasi wisata sejarah tersebut menjadi ikon kota global.
Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Denny Aputra, mengungkapkan bahwa trem listrik akan dioperasikan kembali di jalur yang sama dengan trem bersejarah yang pernah melintasi kawasan itu. Namun, moda transportasi ini akan sepenuhnya menggunakan tenaga listrik, bukan lagi uap atau diesel. "Trem yang lamanya jalurnya saja, dan sudah menggunakan tenaga listrik nanti ke depan," ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (14/6).
Selain trem, konsep LEZ akan membatasi kendaraan bermotor di area tertentu, menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman bagi pejalan kaki serta wisatawan. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik Kota Tua sebagai destinasi wisata kelas dunia sekaligus memperkuat identitas sejarah kawasan. Denny menambahkan bahwa revitalisasi ini merupakan bagian dari visi Gubernur DKI Jakarta untuk menjadikan Kota Tua sebagai "kota global" pada 2029.
Rencana ini tidak hanya berfokus pada transportasi, tetapi juga pada pengalaman wisatawan. Dengan menggabungkan unsur sejarah, pariwisata, dan transportasi ramah lingkungan, Pemprov DKI berharap Kota Tua dapat bersaing dengan destinasi global seperti kawasan bersejarah di Eropa atau Asia. Denny menekankan bahwa revitalisasi dilakukan untuk menghidupkan kembali nilai sejarah kawasan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Meski demikian, detail jalur trem masih dalam tahap kajian dan menunggu keputusan lebih lanjut dari pemerintah. Proyek MRT Lebak Bulus-Kota yang menjadi tulang punggung transportasi massal juga masih diprioritaskan, dengan target rampung pada awal 2029. Integrasi antara trem, MRT, Transjakarta, dan stasiun kereta api diharapkan menciptakan sistem transportasi yang seamless di kawasan Kota Tua.
Keberhasilan revitalisasi ini akan menjadi ujian bagi komitmen Pemprov DKI dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan dan pariwisata berkelas. Pertanyaannya, mampukah trem listrik dan LEZ mengubah Kota Tua menjadi magnet wisata global tanpa mengorbankan autentisitas sejarahnya?



