Aonishiki Bangkit dari Cedera, Targetkan Gelar Yokozuna Setelah Juara Nagoya
Baca dalam 60 detik
- Pegulat sumo Ukraina Aonishiki kembali merebut Piala Kaisar di Nagoya usai demosi dan cedera kaki kiri.
- Ia menargetkan promosi ke yokozuna, meski harus melalui playoff dramatis dengan Atamifuji dan Kirishima.
- Cedera beruntun sempat mengancam kariernya, namun determinasi justru menguatkan ambisinya.

Pegulat sumo asal Ukraina, Aonishiki, kembali mengukuhkan diri sebagai calon kuat yokozuna setelah merebut gelar ketiganya di Turnamen Grand Sumo Nagoya, Minggu (27/7). Meski sempat terdegradasi akibat cedera, atlet berusia 22 tahun itu bertekad menembus puncak karier tertinggi dalam olahraga tradisional Jepang tersebut.
Aonishiki memulai turnamen di IG Arena dengan pangkat sekiwake setelah kehilangan status ozeki pada Mei lalu. Namun, ia hanya membutuhkan 11 hari untuk mengoleksi 10 kemenangan yang diperlukan demi mengamankan kembali pangkat kedua tertinggi itu. Kemenangan di hari terakhir bahkan diraih lewat babak playoff tiga arah yang dramatis melawan Atamifuji dan Kirishima.
Perjalanannya menuju gelar ketiga ini penuh dengan rintangan fisik. Pada Maret lalu, ia mengalami patah tulang jari kelingking kaki kiri yang mengakibatkan rekor kekalahan pertamanya. Kemudian, cedera pergelangan kaki kiri memaksanya absen di turnamen Mei dan menyebabkan degradasi. Di Nagoya, setelah start cemerlang, cedera jempol kaki kiri pada hari kedelapan sempat membuatnya hampir mundur. "Saya bertarung di atas ring dengan rasa takut dan cemas," ujar Aonishiki. "Tapi saya tidak berpikir untuk menyerah."
Kemenangan ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu bintang sumo paling menjanjikan. Setelah turnamen, Aonishiki menegaskan, "Saya telah menunjukkan bahwa saya bukan pegulat yang hanya mengandalkan momentum. Saya akan membidik peringkat teratas." Target yokozuna menjadi nyata setelah ia membuktikan diri mampu bangkit dari keterpurukan. Tak ada pegulat sebelumnya yang pernah menjuarai divisi makuuchi di turnamen yang sama saat ia baru saja terdegradasi dari ozeki.
Pencapaian Aonishiki juga menggugah minat publik Jepang dan diaspora Ukraina. Di Indonesia, sumo mungkin belum populer, tetapi kisah perjuangan atlet muda ini bisa menjadi inspirasi tentang ketangguhan mental dan fisik. Ke depannya, tantangan terberat adalah menjaga konsistensi dan bebas cedera. Bisakah Aonishiki mengikuti jejak legenda seperti Hakuho atau Kakuryu? Jawabannya akan terlihat di turnamen berikutnya.



