Dari Penyakit Pemakan Daging ke Panggung Commonwealth: Perjuangan Ellie Bowen
Baca dalam 60 detik
- Ellie Bowen kehilangan kaki kanan akibat infeksi langka saat berusia 13 bulan, kini menjadi atlet para termuda di skuad Wales untuk Commonwealth Games.
- Dengan dukungan orang tua yang membangun sepeda khusus dan campervan, Bowen berlatih lempar cakram dan tolak peluru, meraih prestasi di kancah internasional.
- Kisahnya menginspirasi banyak orang, termasuk di Indonesia, tentang ketangguhan dan potensi atlet difabel yang bisa bersaing di level tertinggi.

Ellie Bowen, atlet para asal Wales, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk meraih mimpi. Di usia 17 tahun, ia akan menjadi anggota termuda tim atletik Wales yang berlaga di Commonwealth Games Glasgow 2026 di nomor tolak peluru duduk. Perjalanannya menuju panggung internasional ini dimulai dari tragedi saat ia masih bayi.
Pada usia 13 bulan, Bowen didiagnosis menderita necrotizing fasciitis, infeksi bakteri langka yang menghancurkan jaringan di bawah kulit. Orang tuanya sempat khawatir kehilangan putri satu-satunya. Meski selamat, kaki kanannya harus diamputasi. "Karena kehilangan kaki sejak kecil, itu sudah menjadi hal biasa bagi saya," ujarnya.
Namun, olahraga mengubah perspektifnya. Bowen mulai dikenal setelah ditemukan oleh Anthony Hughes, direktur performa Disability Sport Wales, yang melihat potensi besarnya. Hughes memperkenalkannya pada balap kursi roda, lalu beralih ke nomor lempar. Setelah pandemi Covid-19, ia mengikuti kompetisi lempar dan langsung dinobatkan sebagai penampil terbaik. "Saya sadar, 'oh, saya cukup bagus di ini,' dan terus berlatih hingga jatuh cinta," kenang Bowen.
Dukungan orang tua menjadi pilar utama kesuksesan Bowen. Ayahnya, Martin, membuatkan sepeda khusus agar Bowen bisa bersepeda bersama saudara-saudaranya. Tak berhenti di situ, Martin juga merakit campervan untuk memudahkan perjalanan putrinya ke berbagai kompetisi. "Tidak ada yang menjadi penghalang baginya. Apa pun yang ada di depan, dia akan coba lakukan, dan jika tidak bisa, dia cari jalan lain," kata Martin.
Kisah Bowen memiliki resonansi kuat di Indonesia, di mana atlet difabel masih sering menghadapi keterbatasan akses dan dukungan. Prestasi atlet para Indonesia seperti Saptoyogo Purnomo dan Ni Nengah Widiasih telah mengharumkan nama bangsa. Namun, masih banyak potensi yang perlu digali dengan perhatian lebih pada pembinaan usia dini dan fasilitas adaptif. Perjuangan Bowen menunjukkan bahwa dengan dukungan keluarga dan sistem yang tepat, atlet difabel bisa bersaing di level tertinggi.
"Ini kompetisi terbesar yang pernah saya ikuti, dan saya sangat bersyukur bisa berada di sini. Rasanya luar biasa bisa mewakili Wales," ungkap Bowen. Meski medali menjadi target, kehadirannya di Glasgow sudah menjadi kemenangan tersendiri. Pertanyaannya, akankah Indonesia bisa meniru model dukungan seperti yang diterima Bowen untuk melahirkan lebih banyak atlet para berprestasi?



