Raúl Jiménez: Dari Ambang Kematian ke Pahlawan Piala Dunia Meksiko
Baca dalam 60 detik
- Raúl Jiménez mencetak gol pertamanya di Piala Dunia dalam laga pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan, enam tahun setelah mengalami cedera kepala yang mengancam jiwa.
- Gol tersebut membawa Meksiko unggul 2-0 dan menjadi momen emosional bagi Jiménez, yang juga kehilangan ayahnya pada Maret lalu.
- Kisah kebangkitan Jiménez menjadi inspirasi bagi atlet yang mengalami cedera serius, menunjukkan ketangguhan mental dan fisik yang luar biasa.

Raúl Jiménez menangis di depan 80.000 penonton Stadion Azteca. Bukan karena tekanan, melainkan karena ia baru saja mewujudkan mimpi yang nyaris sirna enam tahun lalu. Pemain depan Meksiko itu mencetak gol keduanya dalam kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan pada laga pembuka Piala Dunia 2026, sebuah pencapaian yang terasa mustahil sejak ia mengalami cedera kepala parah pada November 2020.
Gol tersebut lahir dari sundulan keras menyambut umpan silang Roberto Alvarado. Jiménez langsung berlari, menunjuk ke langit, dan kemudian diliputi tangis. Julian Quiñones, pencetak gol pertama Meksiko, mengatakan, "Kami benar-benar memberi selamat padanya karena dia memberi banyak untuk tim. Sungguh luar biasa dia terus menambah gol untuk kariernya di tim nasional."
Bagi Jiménez, gol ini adalah yang ke-46 untuk Meksiko dalam 125 penampilan, menyamai posisi kedua pencetak gol terbanyak sepanjang masa, hanya terpaut enam gol dari Javier Hernández. Namun, lebih dari sekadar statistik, momen ini adalah puncak dari perjuangan panjang melawan cedera yang hampir merenggut nyawanya.
Peristiwa 29 November 2020 menjadi titik balik. Benturan kepala dengan bek Arsenal David Luiz membuat Jiménez pingsan di lapangan. Rekan setim, pelatih, dan keluarganya menonton dengan cemas, bertanya-tanya apakah ia masih hidup. Oksigen diberikan di lapangan, dan proses pemulihan berjalan lambat. Ia tidak diizinkan berlatih bersama pemain lain selama enam bulan, dan baru bermain lagi delapan bulan kemudian. Gol pertamanya setelah cedera terjadi pada September 2021, saat ia mencetak gol kemenangan untuk Wolves melawan Southampton.
Edu Rubio, asisten pelatih Wolves saat itu, kini bekerja di MLS dan menyaksikan kebangkitan Jiménez. "Itu adalah cedera yang mengancam jiwa, dan saya merasa takut untuknya," kata Rubio. "Dia adalah pejuang. Ada keraguan, bahkan dari dirinya sendiri, apakah dia bisa kembali ke performa terbaik. Tapi saya tidak pernah ragu." Rubio menambahkan bahwa Jiménez adalah pribadi yang rendah hati dan sangat dekat dengan keluarga, yang menjadi pendukung utamanya.
Bagi Indonesia, kisah Jiménez menjadi pengingat akan pentingnya penanganan cedera kepala dalam olahraga. Di Tanah Air, kasus cedera serupa masih kerap terjadi, namun protokol keselamatan pemain terus diperbaiki. Perjuangan Jiménez juga menginspirasi atlet muda untuk tidak menyerah menghadapi rintangan berat.
Meksiko kini berada di posisi kuat untuk melaju ke babak gugur. Jiménez, yang baru saja kembali ke Wolves setelah tiga musim di Fulham, masih memiliki kesempatan menambah gol di Piala Dunia yang digelar di negaranya sendiri. Pertanyaannya, akankah ia mampu melampaui rekor Javier Hernández dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Meksiko?



