Kanada di Piala Dunia 2026: Mimpi Pertama di Kandang Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Kanada akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, dengan target utama memenangkan pertandingan pertama dan lolos dari fase grup.
- Kapten Alphonso Davies, pahlawan gol pertama Kanada di Piala Dunia, masih diragukan tampil karena cedera hamstring.
- Pelatih Jesse Marsch membawa skuad multikultural yang diyakini mampu bersaing, meski sejarah Kanada di turnamen ini suram.

Kanada bersiap menulis ulang sejarah sepak bola mereka saat menjamu Bosnia dan Herzegovina di Toronto dalam laga pembuka Piala Dunia 2026. Untuk pertama kalinya, tim berjuluk Les Rouges itu tampil di dua edisi Piala Dunia berturut-turut, dan kali ini mereka bertindak sebagai tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Namun, di balik euforia tersebut, Kanada masih dibayangi catatan buruk: belum pernah lolos dari fase grup, selalu kalah dalam setiap pertandingan sejak debut 1986, dan hanya mencetak dua gol sepanjang partisipasi mereka.
Bagi banyak pengamat, target realistis Kanada di Grup B adalah memenangkan satu pertandingan dan melangkah ke babak gugur. Mantan pelatih kepala Kanada, Stephen Hart, optimistis tim asuhan Jesse Marsch memiliki kapasitas untuk mencapai hal itu. “Skuad ini punya potensi untuk keluar dari fase grup,” ujar Hart kepada BBC. “Kanada kini memiliki pemain yang tidak hanya bermain di liga top, tetapi juga di Liga Champions Eropa, yang saya anggap sebagai sepak bola terbaik di dunia.”
Hart menunjuk pada pengalaman para pemain Kanada yang merumput di klub-klub besar Eropa seperti Juventus, Porto, Bayern Munich, dan Marseille. Kehadiran mereka, menurut Hart, menjadi fondasi penting bagi tim yang tengah membangun identitas baru di bawah arahan Marsch—pelatih asal Amerika Serikat pertama yang menangani Kanada. Marsch, yang sebelumnya menukangi Leeds United, mengambil alih tim pada 2024 dan membawa Kanada finis keempat di Copa America.
Namun, ada kekhawatiran besar menjelang laga perdana. Kapten tim, Alphonso Davies, masih dalam pemulihan cedera hamstring yang dideritanya beberapa pekan lalu. Davies, yang lahir di kamp pengungsi di Ghana dari orang tua Liberia dan dibesarkan di Kanada sejak usia lima tahun, adalah ikon sepak bola negeri itu. Ia mencetak gol pertama Kanada di Piala Dunia saat menjebol gawang Kroasia pada 2022. Tanpa Davies, lini belakang dan serangan Kanada kehilangan elemen dinamis yang sulit digantikan. “Alphonso membawa inspirasi dan fleksibilitas—bisa bermain sebagai bek sayap atau didorong ke depan. Ia adalah pemain yang sangat kreatif dalam dribbling dan passing,” kata Hart.
Selain Davies, cedera juga mengancam bek Moise Bombito dan Ali Ahmed. Kanada memiliki waktu hingga 24 jam sebelum kick-off untuk melakukan perubahan skuad. Hart menekankan pentingnya memenangkan laga pertama melawan Bosnia, yang sebelumnya menyingkirkan Italia—juara dunia empat kali—di babak kualifikasi. “Di turnamen seperti ini, memenangkan pertandingan pertama sangat penting. Itu memberi ketenangan mental, kepercayaan diri, dan mengurangi kecemasan untuk laga-laga berikutnya,” ujarnya.
Setelah Bosnia, Kanada akan menghadapi Qatar, yang pada 2022 menjadi tuan rumah pertama yang gagal lolos dari fase grup. Hart menilai Qatar sebagai tim yang tidak terduga, tetapi Kanada bisa meraih hasil jika disiplin dan meminimalkan kesalahan. Lawan terberat di grup adalah Swiss, dan hasil imbang sudah dianggap sukses bagi tuan rumah. Dengan skuad yang dihuni pemain seperti Jonathan David (Juventus), Stephen Eustaquio (Porto), dan Tajon Buchanan (Villarreal), Kanada berharap bisa mengakhiri puasa kemenangan di Piala Dunia. Pertanyaannya, bisakah mereka mengatasi tekanan sebagai tuan rumah dan cedera pemain kunci untuk menorehkan sejarah baru?



