Buru Striker Baru, Everton dan Leeds Berebut Lois Openda di Tengah Sanksi Finansial
Baca dalam 60 detik
- Everton dihukum membayar kompensasi £35 juta ke Burnley akibat pelanggaran PSR, namun tetap agresif di bursa transfer.
- Klub asal Merseyside itu bersaing dengan Leeds United untuk mendapatkan Lois Openda, yang baru akan resmi menjadi pemain Juventus pekan depan.
- Openda, yang minim kontribusi gol di Serie A, menjadi opsi murah karena Juventus ingin segera melepasnya setelah pembelian otomatis.

Meski tengah bergulat dengan sanksi finansial yang memberatkan, Everton tetap menunjukkan ambisi di bursa transfer musim panas ini. Klub asal Liverpool itu dikabarkan siap bersaing dengan Leeds United untuk merekrut Lois Openda, penyerang asal Belgia yang baru akan resmi dipermanenkan Juventus pada pekan depan.
Everton baru saja menerima pukulan telak setelah komite banding memutuskan mereka harus membayar kompensasi lebih dari £35 juta kepada Burnley. Keputusan ini berawal dari pengurangan enam poin yang diterapkan pada musim 2021-22 karena pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR). Burnley, yang terdegradasi dengan selisih empat poin dari Everton, berargumen bahwa jika hukuman tersebut diterapkan saat itu, mereka akan selamat dari degradasi. Argumen itu diterima, menciptakan preseden baru dalam regulasi keuangan sepak bola Inggris.
“Dampak dari putusan ini bisa meluas jauh melampaui kasus ini,” ujar Aaryaman Banerji, kepala tata kelola sepak bola di LCP, pekan lalu. “Preseden yang ditetapkan sangat penting – jika sebuah klub menderita kerugian olahraga akibat pelanggaran regulasi oleh klub lain, klub yang dirugikan dapat menuntut kompensasi finansial.” Everton telah mengajukan banding atas keputusan yang mereka anggap “cacat” dan tetap melanjutkan rencana transfer sambil menunggu hasil banding.
Prioritas utama manajer David Moyes adalah mendatangkan penyerang anyar. Beto dan Thierno Barry dinilai belum mampu menjadi ujung tombak andalan. Nama Lois Openda muncul sebagai target potensial setelah agennya menawarkan pemain berusia 26 tahun itu ke Goodison Park. Opsi yang tersedia adalah transfer permanen atau pinjaman dengan kewajiban pembelian.
Menariknya, Openda baru akan menjadi milik Juventus secara penuh saat bursa transfer resmi dibuka pada Senin mendatang. Klub Serie A itu meminjamnya dari RB Leipzig musim lalu dengan klausul pembelian otomatis yang aktif setelah Juventus finis di posisi sepuluh besar. Total biaya yang harus dikeluarkan mencapai €46 juta (£40 juta), termasuk €3,25 juta sebagai biaya pinjaman. Namun, produktivitas Openda di Italia sangat mengecewakan: hanya satu gol dalam 24 penampilan. Juventus pun berniat melepasnya segera, setidaknya dengan status pinjaman.
Leeds United, yang musim lalu nyaris promosi ke Premier League, juga dikaitkan dengan Openda. Klub Championship itu disebut-sebut menjadi tujuan yang diminati sang pemain. Persaingan antara Everton dan Leeds diprediksi memanas, terutama jika Everton gagal memenangkan banding dan harus menjual pemain untuk menyeimbangkan keuangan. Di sisi lain, Leeds memiliki daya tarik sebagai klub yang tengah membangun kembali identitasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik karena menunjukkan bagaimana regulasi keuangan berdampak langsung pada strategi klub. Di Liga 1, aturan serupa mulai diterapkan untuk mendorong tata kelola yang lebih sehat. Kasus Everton-Burnley bisa menjadi pelajaran berharga: pelanggaran finansial tidak hanya berujung pada pengurangan poin, tetapi juga gugatan kompensasi dari pihak yang dirugikan. Pertanyaannya, akankah preseden ini mendorong klub-klub Indonesia untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan?



