Komentar Pedas Pengamat Malaysia: Trik Kotor Vietnam U-19 Bisa Bumerang
Baca dalam 60 detik
- Pengamat sepak bola Malaysia, Raja Isa, mengecam perilaku negatif pemain Vietnam U-19 saat kalah dari Indonesia U-19 di Piala AFF U-19 2026.
- Raja Isa menilai kebiasaan bermain kasar dan sandiwara Vietnam sudah menjadi ciri khas sejak era Park Hang-seo, namun berpotensi merugikan mereka sendiri dengan aturan baru FIFA.
- Ia mengingatkan Timnas Indonesia U-19 untuk tetap tenang dan fokus pada permainan, tidak terpancing provokasi lawan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8130002/original/039871200_1780981732-BPP_1140.jpg)
Kekalahan Vietnam U-19 dari Indonesia U-19 di Piala AFF U-19 2026 menyisakan drama yang tak hanya membuat kecewa pendukungnya, tetapi juga menuai kritik tajam dari pengamat sepak bola regional. Raja Isa, pengamat asal Malaysia, menyoroti ulah pemain Vietnam yang dinilai berlebihan dalam menggunakan trik negatif, mulai dari permainan kasar hingga akting berlebihan di lapangan.
Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Indonesia, sejumlah pemain Vietnam terlihat melakukan pelanggaran keras dan berpura-pura cedera untuk mengulur waktu. Raja Isa, yang dikenal sebagai pengamat sepak bola kawakan di kawasan, menilai perilaku tersebut sudah menjadi kebiasaan yang mengakar di tubuh timnas Vietnam sejak era kepelatihan Park Hang-seo. Menurutnya, pendekatan pragmatis yang menghalalkan segala cara untuk menang justru mencoreng sportivitas.
"Trik pemain Vietnam ini mulai muncul saat dilatih Park Hang-seo. Mereka seolah menghalalkan segala cara untuk memenangkan pertandingan, meskipun harus bermain kasar hingga sengaja mencederai lawan," ujar Raja Isa dalam pernyataannya. Ia juga mengingatkan bahwa pemain Vietnam sebenarnya memiliki kualitas teknis yang mumpuni, sehingga tidak perlu mengandalkan cara-cara negatif untuk meraih kemenangan.
Lebih lanjut, Raja Isa menyoroti bahwa kebiasaan buruk ini sudah menjadi semacam "trademark" bagi sepak bola Vietnam. Ia mencontohkan bagaimana Evan Dimas, gelandang Timnas Indonesia, pernah menjadi korban keganasan pemain Vietnam di ajang SEA Games. "Berapa pemain Indonesia telah jadi korban? Evan Dimas pernah mengalaminya. Pemain Vietnam punya kualitas, mereka tak perlu lagi bermain nakal," tegasnya.
Meski demikian, Raja Isa mengakui bahwa memancing emosi lawan adalah taktik yang sah dalam sepak bola, asalkan masih dalam koridor sportivitas. Ia menilai Timnas Indonesia U-19 sempat terpancing emosi dalam laga tersebut, dan hal itu harus diantisipasi ke depannya. "Boleh saja memancing emosi lawan, tapi harus dalam koridor sportivitas. Saya lihat kemarin emosi mereka terpancing juga," ujarnya.
Yang menjadi perhatian serius adalah ancaman dari aturan baru FIFA yang mulai diterapkan. Raja Isa memperingatkan bahwa FIFA kini melarang pemain mengulur waktu dengan drama. Jika Vietnam tidak mengubah kebiasaan ini, mereka akan dirugikan sendiri. "Aturan baru FIFA melarang pemain mengulur waktu dengan drama. Jika Vietnam tak berubah, akan merugikan mereka sendiri. Timnas Indonesia U-19 tidak perlu memikirkan perilaku Vietnam. Mereka harus cool dan fokus pada permainan," tutupnya.
Peringatan Raja Isa ini menjadi bahan renungan bagi sepak bola Vietnam, terutama di level junior. Pertanyaannya, mampukah Vietnam melepaskan diri dari kebiasaan negatif ini sebelum aturan FIFA yang lebih ketat benar-benar menjerat mereka?



