UniLeague 2026: Sepak Bola Kampus Jadi Panggung Kampanye Kesehatan Mental dan Perdamaian
Baca dalam 60 detik
- UniLeague 2026 menghadirkan Mind Corner, ruang aman bagi peserta dan suporter untuk mengekspresikan emosi serta menuliskan komitmen perdamaian.
- Kampanye #Football4MentalHealth dan Play For Peace mendapat dukungan dari pejabat PBB, Kemlu RI, dan Menpora, menegaskan peran olahraga dalam membangun empati.
- Kompetisi ini juga menjadi objek riset akademik, dengan hasilnya akan dipresentasikan dalam National Conference of Football Science pada September 2026.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257999/original/049630400_1781270990-WhatsApp_Image_2026-06-12_at_17.55.07.jpeg)
Di sela rivalitas sengit antara Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Regional Jakarta, UniLeague 2026 justru mengalihkan perhatian pada isu yang kerap terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk pertandingan: kesehatan mental dan perdamaian. Melalui inisiatif Mind Corner, penyelenggara ingin membuktikan bahwa sepak bola tidak melulu soal skor akhir.
Laga yang berlangsung di Stadion UMJ, Tangerang Selatan, pada 7 Juni 2026 itu menjadi ajang perkenalan berbagai aktivitas interaktif. Mind Corner dirancang sebagai ruang aman—bukan sekadar booth—tempat suporter dan pemain dapat mengakui kondisi emosional mereka tanpa stigma. Dua fitur utama, Mood Check Board dan Peace Pledge Wall, mengajak pengunjung untuk mengungkapkan perasaan dan menulis komitmen kecil demi lingkungan yang lebih suportif.
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari sejumlah tokoh nasional dan internasional yang hadir. Kepala Perwakilan PBB di Indonesia Gita Sabharwal, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI Heru Hartanto, serta praktisi sepak bola Ratu Tisha Destria turut menuliskan pesan di Peace Pledge Wall. Heru Hartanto menilai sepak bola sebagai bahasa universal yang mampu membangun koneksi antarmanusia sekaligus menyebarkan misi perdamaian. "Saya melihat secara nyata peluang untuk mengembangkan kesehatan mental sebagai bagian dari permainan," ujarnya.
Ratu Tisha Destria, mantan Sekjen PSSI, menyoroti nilai lebih UniLeague dibanding kompetisi mahasiswa lain. Menurutnya, ajang ini tidak hanya berhenti di lapangan, tetapi juga menjadi laboratorium riset. Sejumlah mahasiswa magister dan doktoral telah menjadikan UniLeague sebagai objek studi, dan temuan mereka akan dipaparkan dalam konferensi sains sepak bola nasional. "Kami akan membawanya ke level riset dan teknologi berikutnya," kata Ratu Tisha.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, dalam sambutan video saat kick-off, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan UniLeague. Ia menekankan bahwa kompetisi ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, mengingatkan bahwa olahraga dapat menjadi medium membangun empati dan memperkuat karakter. "Melalui semangat Play For Peace dan #Football4MentalHealth, kita saling menguatkan di tengah dinamika kehidupan," ujar Erick.
UniLeague 2026 dijadwalkan berlangsung hingga pertengahan Agustus. Pertanyaannya, akankah inisiatif serupa diadopsi oleh kompetisi sepak bola lain di Indonesia, atau justru menjadi model baru bagi pengembangan olahraga yang holistik?



