Bitcoin Terjun 4% ke US$61,6 Ribu: Sinyal Bearish Makin Kuat, Pasar Nantikan Data Inflasi AS
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin anjlok 4% setelah gagal menembus level resistensi Fibonacci 78,6% di US$64.099,67, memperpanjang tren penurunan yang sudah berlangsung berminggu-minggu.
- Arus keluar bersih dari ETF Bitcoin spot AS mencapai US$5 miliar dalam sebulan terakhir, menandakan tekanan jual institusional yang persisten.
- Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada 10 Juni menjadi penentu: jika lebih panas dari perkiraan, Bitcoin berisiko jatuh ke US$55.000.

Bitcoin (BTCUSD) kembali terpukul pada perdagangan Selasa, merosot sekitar 4% ke level US$61.600 setelah gagal mempertahankan posisi di atas US$63.000 sehari sebelumnya. Kejatuhan ini dipicu oleh penolakan teknis pada level resistensi kritis Fibonacci 78,6% di US$64.099,67, yang menjadi batas psikologis bagi para bull. Tekanan jual institusional yang terus mengalir memperkuat sentimen negatif di pasar kripto global.
Data terbaru menunjukkan arus keluar bersih dari ETF Bitcoin spot AS mencapai US$91,4 juta pada 8 Juni, memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung hampir empat pekan. Secara akumulatif, sekitar US$5 miliar telah ditarik dari produk-produk tersebut sejak pertengahan Mei. Fenomena ini mencerminkan aksi mengurangi eksposur risiko di kalangan investor institusional menjelang rilis data ekonomi penting.
Analis pasar menilai pergerakan Bitcoin saat ini tidak semata-mata dipicu faktor internal kripto, melainkan juga oleh faktor makroekonomi. “Ini adalah repricing risiko yang didorong oleh makro,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Para pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Mei yang akan dirilis pada 10 Juni. Angka inflasi tersebut diproyeksikan menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
Jika CPI keluar lebih tinggi dari ekspektasi, Bitcoin berpotensi menembus support psikologis US$60.000 dan melanjutkan penurunan menuju US$55.000. Sebaliknya, data inflasi yang sesuai atau lebih rendah dari perkiraan dapat membantu Bitcoin berkonsolidasi di kisaran US$60.000 hingga US$64.100. Namun, secara teknis, Bitcoin masih berada dalam tren turun yang terkonfirmasi oleh pola lower high dan lower low.
Di sisi fundamental, perdebatan mengenai penyebab pelemahan Bitcoin kian memanas. Michael Saylor, pendiri MicroStrategy (kini Strategy), berpendapat bahwa rotasi modal ke infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama. Sementara itu, firma investasi Arca menyoroti penjualan kecil Bitcoin yang dilakukan Strategy baru-baru ini sebagai pemicu kekhawatiran. Arca khawatir langkah tersebut bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan akan terus menjual aset kriptonya untuk memenuhi kewajiban kas di masa depan.
Narasi bahwa akumulator besar seperti Strategy berpotensi berubah menjadi penjual telah menimbulkan ketidakpastian di pasar. Sentimen pun terjebak dalam zona “Extreme Fear” dan diperkirakan akan bertahan hingga strategi pendanaan Strategy menjadi lebih jelas. Bagi investor Indonesia, kondisi ini mengingatkan pada volatilitas aset kripto yang kerap dipengaruhi faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter AS. Dengan belum adanya regulasi kripto yang komprehensif di dalam negeri, investor ritel Indonesia perlu lebih waspada terhadap risiko fluktuasi harga yang tajam.
Ke depan, data CPI AS akan menjadi katalis utama yang menentukan apakah Bitcoin mampu bertahan di atas US$60.000 atau justru melanjutkan koreksi lebih dalam. Pertanyaan yang menggantung: akankah tekanan jual institusional mereda setelah rilis data inflasi, atau justru semakin menguat jika angka inflasi kembali mengecewakan?



