Proyeksi Emas Tembus US$ 6.000, Antam Raup Laba Rp7,9 Triliun
Baca dalam 60 detik
- JP Morgan memperkirakan harga emas global melampaui US$ 6.000 per ounce pada 2026, didorong ketegangan geopolitik dan inflasi.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat laba Rp7,92 triliun pada 2025, naik 106% berkat penjualan emas yang menyumbang 79% pendapatan.
- Emiten emas Indonesia diuntungkan oleh tren safe haven, dengan ekspansi produk digital dan sertifikasi LBMA 99,99%.

Lonjakan harga emas dunia yang diproyeksikan menembus US$ 6.000 per ounce pada 2026 membawa berkah bagi emiten tambang nasional, terutama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mencatatkan laba bersih Rp7,92 triliun pada 2025 โ melesat 106% dibanding tahun sebelumnya.
Proyeksi optimistis dari JP Morgan, bank investasi terbesar Amerika Serikat, menyebutkan bahwa harga emas bisa mencapai US$ 6.300 per ounce. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven. Analis JP Morgan menilai, pergerakan harga emas yang sudah tumbuh 64% sepanjang 2025 menjadi fondasi kuat untuk reli lebih lanjut. Inflasi yang terus meninggi juga menjadi katalis, karena pasokan emas yang terbatas membuat logam mulia ini semakin diminati saat daya beli mata uang menurun.
Di Indonesia, geliat investasi emas tercermin dari kinerja ANTM. Pendapatan perusahaan naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025, dengan bisnis emas menyumbang sekitar 79% dari total penjualan. Penjualan emas ANTM sendiri mencapai Rp66,47 triliun, tumbuh 15% dibanding 2024. Lonjakan ini tidak lepas dari permintaan yang kuat, baik dari investor ritel maupun institusi.
Untuk mengakomodasi minat investasi yang terus bertambah, ANTM memperluas ekosistem emas digital melalui produk BRANKAS (Berencana Aman Kelola Emas) dan emas fisik digital yang bisa diakses via ponsel. Langkah ini memudahkan masyarakat berinvestasi tanpa perlu repot menyimpan emas fisik. Direktur Komersial ANTM, Handi Sutanto, menegaskan bahwa emas produksi perseroan memiliki sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) dengan kadar 99,99%, melampaui standar internasional 99,5%. "Ini bukan hanya soal uang, tapi juga kualitas," ujarnya dalam keterangan resmi.
Handi juga memastikan tidak ada praktik percaloan dalam distribusi emas Antam, meskipun permintaan sedang tinggi. Ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam berinvestasi, menyesuaikan dengan tujuan jangka pendek, menengah, atau panjang. "Ini adalah anugerah bagi Antam, kami terus berbenah," tambahnya.
Dengan proyeksi harga emas yang masih bullish, ANTM dipandang sebagai salah satu emiten yang paling diuntungkan di bursa saham Indonesia. Namun, investor perlu mencermati risiko fluktuasi harga global dan kebijakan bank sentral yang dapat mempengaruhi permintaan. Akankah tren kenaikan ini berlanjut hingga 2026, atau justru menjadi puncak siklus? Yang jelas, emas tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

