Ozempic dan Wegovy: Obat Diabetes Ini Disebut Bisa Perlambat Penuaan Biologis
Baca dalam 60 detik
- Studi pada pengidap HIV menunjukkan semaglutide memperlambat penuaan biologis hingga 9% berdasarkan jam epigenetik DunedinPACE.
- Efek ini diduga berasal dari penurunan peradangan kronis dan lemak visceral, yang menjadi pemicu utama penuaan dini.
- Temuan masih bersifat awal; uji klinis lebih besar diperlukan untuk memastikan manfaat serupa pada populasi umum.

Obat diabetes dan penurun berat badan populer seperti Ozempic dan Wegovy, yang mengandung semaglutide, tidak hanya membantu mengontrol gula darah dan mengurangi lemak tubuh, tetapi juga berpotensi memperlambat proses penuaan biologis. Temuan ini terungkap dari analisis lanjutan terhadap uji klinis yang melibatkan 84 orang dewasa dengan HIV yang mengalami lipohipertrofi—penumpukan lemak abnormal yang kerap menyertai infeksi dan terapi antiretroviral.
Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications itu, para peneliti dari University of California San Diego menggunakan beberapa jam epigenetik untuk mengukur usia biologis partisipan. Hasilnya, kelompok yang menerima suntikan semaglutide mingguan selama 32 minggu menunjukkan perlambatan penuaan biologis yang signifikan pada berbagai indikator, termasuk peradangan, fungsi otak, dan jantung. Salah satu jam yang digunakan, DunedinPACE, mencatat penurunan laju penuaan sebesar 9% pada kelompok semaglutide dibandingkan plasebo. Sementara itu, jam PCGrimAge—yang terkait dengan risiko kematian dan penyakit terkait usia—juga menunjukkan perbaikan yang bermakna.
Penulis utama studi, Michael Corley, PhD, menekankan bahwa temuan ini tidak berarti obat tersebut membalikkan penuaan. “Yang kami lihat adalah sinyal bahwa semaglutide mungkin memperlambat beberapa proses biologis yang mendasari penyakit terkait usia,” ujarnya. Ia menyebut konsistensi pola perlambatan di berbagai jam epigenetik yang mengukur organ berbeda sebagai temuan yang paling menonjol. “Bukan besarnya efek tunggal, melainkan luasnya respons di berbagai sistem yang mengejutkan,” tambah Corley.
Mekanisme di balik efek anti-penuaan ini diduga terkait dengan kemampuan semaglutide meredam peradangan kronis dan mengurangi lemak visceral—lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam dan memicu stres metabolik. Kedua faktor tersebut merupakan pendorong utama penuaan biologis, terutama pada pengidap HIV yang mengalami peradangan menetap meski virus sudah terkendali. Corley menjelaskan, “Dengan menurunkan peradangan dan stres metabolik, obat ini meredam aktivasi imun kronis yang mempercepat penuaan pada populasi HIV.” Ia juga menambahkan bahwa data awal menunjukkan kemungkinan obat ini memprogram ulang sel-sel di berbagai organ, sehingga efeknya terlihat di banyak sistem sekaligus.
Meski hasil ini menjanjikan, para peneliti mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan. Studi ini hanya melibatkan orang dengan HIV, sehingga belum tentu berlaku untuk populasi umum. Selain itu, pengukuran penuaan masih menggunakan biomarker molekuler, bukan luaran klinis langsung seperti harapan hidup atau kejadian penyakit. “Kami optimistis hati-hati. Sinyal ini layak diuji dalam uji coba yang lebih besar,” tegas Corley. Ia juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan dosis optimal, durasi terapi, serta efek sinergis dengan pola hidup sehat seperti diet dan olahraga.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi tentang potensi penggunaan GLP-1 receptor agonist di luar indikasi diabetes dan obesitas. Dengan prevalensi HIV yang masih signifikan dan meningkatnya angka obesitas, semaglutide bisa menjadi kandidat terapi untuk memperlambat penuaan dini pada populasi rentan. Namun, biaya yang masih tinggi dan keterbatasan akses menjadi tantangan. Seperti diungkapkan Corley, “Pertanyaan besarnya adalah efek mana yang bertahan lama, dan pasien mana yang paling diuntungkan.” Jawabannya hanya bisa diperoleh lewat riset klinis yang ketat dan konteks lokal yang diperhitungkan.



