AI Mampu Deteksi Kanker Payudara 6 Tahun Sebelum Diagnosis, Studi Swedia Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Tiga sistem AI komersial mampu mengidentifikasi tanda-tanda awal kanker payudara pada mammogram hingga enam tahun sebelum diagnosis resmi, dengan tingkat akurasi 90%.
- Studi retrospektif di Swedia melibatkan lebih dari 31.000 partisipan dan 88.963 mammogram, menunjukkan AI dapat mendeteksi kelainan pada 19,7% kasus enam tahun sebelum terdeteksi radiolog.
- Temuan ini membuka peluang skrining lebih personal, namun masih perlu validasi prospektif untuk memastikan manfaat klinis dan menghindari prosedur berlebihan pada wanita tanpa kanker.

Kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan potensinya dalam dunia medis. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Radiology mengungkap bahwa tiga sistem AI komersial mampu mendeteksi perubahan halus pada mammogram hingga enam tahun sebelum kanker payudara terdiagnosis secara formal. Temuan ini menjadi angin segar bagi upaya deteksi dini yang selama ini menjadi tantangan utama dalam penanganan kanker payudara.
Penelitian retrospektif yang dilakukan di Swedia ini menganalisis 88.963 mammogram dari lebih dari 31.000 partisipan selama periode 2008–2019. Data tersebut berasal dari basis data Validasi Kecerdasan Buatan untuk Pencitraan Payudara (VAI-BI) yang mencakup empat wilayah di Swedia. Selama periode studi, 12.072 perempuan didiagnosis menderita kanker payudara setelah menjalani skrining rutin oleh radiolog.
Ketiga sistem AI yang diuji—semuanya merupakan produk komersial untuk deteksi berbantuan komputer (AI-CAD)—diberi tugas menilai mammogram historis. Hasilnya, sistem tersebut mampu mengidentifikasi kelainan yang berkaitan dengan kanker pada 19,7% partisipan enam tahun sebelum diagnosis. Angka ini setara dengan sekitar satu dari lima kasus kanker payudara yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda awal yang bisa dikenali AI jauh sebelum mata manusia melihatnya. Pada rentang empat tahun dan dua tahun sebelum diagnosis, tingkat deteksi AI meningkat menjadi 25,2% dan 39,3%.
“Studi kami menunjukkan bahwa, pada banyak pasien, tanda-tanda kanker yang bisa dideteksi AI muncul beberapa tahun sebelum radiolog menganggapnya cukup mencurigakan untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan,” ujar Fredrik Strand, MD, PhD, penulis senior studi dari Rumah Sakit Universitas Karolinska di Stockholm. Ia menambahkan bahwa skor prediksi risiko dari AI dapat membantu radiolog menentukan siapa yang perlu dipantau lebih ketat atau mendapat strategi skrining yang lebih personal.
Swedia sendiri memiliki program skrining nasional yang mengundang perempuan usia 40–74 tahun untuk menjalani mammogram setiap dua tahun. Tingkat partisipasi mencapai lebih dari 80%, dan angka harapan hidup kanker payudara di Swedia termasuk yang terbaik di Eropa—delapan dari sepuluh pasien bertahan. Integrasi AI diharapkan semakin meningkatkan deteksi dini dan mengurangi beban kerja radiolog yang kerap harus memeriksa ribuan gambar.
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat retrospektif. Artinya, AI tidak diuji dalam praktik klinis langsung, melainkan pada data historis. Strand mengakui ada dua keterbatasan utama: pertama, belum bisa dipastikan apakah perubahan yang terdeteksi benar-benar merupakan kanker awal atau hanya penanda risiko di masa depan; kedua, ada trade-off antara menemukan kanker lebih awal dan risiko prosedur berlebihan pada wanita yang ternyata tidak mengidap kanker.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi tentang potensi adopsi AI dalam skrining kanker payudara. Saat ini, program deteksi dini kanker payudara di Indonesia masih terbatas, dengan cakupan skrining yang rendah dan keterbatasan tenaga radiolog. Pemanfaatan AI bisa menjadi solusi untuk memperluas akses dan meningkatkan akurasi, terutama di daerah dengan fasilitas terbatas. Namun, diperlukan studi lokal untuk mengevaluasi efektivitas dan kesesuaian biaya sebelum implementasi luas.
Ke depan, para peneliti berencana melakukan studi prospektif untuk memvalidasi apakah skor AI benar-benar dapat meningkatkan luaran pasien. Strand membayangkan skenario di mana radiolog menggunakan skor AI sebagai masukan dalam penilaian mammogram, bahkan mungkin dengan daftar baca terpisah berdasarkan tingkat risiko. “AI semakin banyak digunakan dalam skrining kanker payudara, dan studi kami memberikan gambaran lebih jelas tentang potensinya membantu radiolog menemukan kanker jauh lebih awal,” pungkasnya.



