Bau Mulut Tak Terdeteksi Sendiri: Ahli Jepang Ungkap Cara Mengatasinya
Baca dalam 60 detik
- Kebanyakan orang tidak menyadari bau mulut sendiri karena kelelahan penciuman akibat terus-menerus terpapar aroma napasnya.
- Bakteri mulut yang mengurai protein dan sisa makanan menghasilkan senyawa sulfur volatil serta indole dan skatole, yang menimbulkan bau seperti telur busuk atau feses.
- Membersihkan lidah dan sela gigi secara rutin merupakan langkah utama mengurangi bau mulut, sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Bau mulut yang menyengat saat berbicara dengan lawan bicara seringkali tidak disadari oleh pemiliknya. Fenomena ini, menurut pakar kedokteran gigi pencegahan dari Jepang, terjadi karena indra penciuman manusia beradaptasi terhadap aroma napasnya sendiri sehingga tidak mampu membedakan bau tak sedap yang dikeluarkan.
Takahiko Oho, profesor emeritus Universitas Kagoshima yang membuka klinik halitosis di Universitas Kyushu pada 1998, menjelaskan bahwa rongga mulut manusia dihuni oleh beberapa ratus jenis bakteri dengan jumlah mencapai ratusan miliar per gram—setara atau sedikit lebih rendah dibandingkan populasi bakteri di usus. Saat bakteri ini mengurai sel-sel mukosa mulut yang terkelupas, komponen sel darah, jamur mati, serta protein dan karbohidrat dari sisa makanan, mereka menghasilkan zat-zat penyebab bau mulut.
Bau mulut tidaklah seragam. Senyawa sulfur volatil seperti hidrogen sulfida menghasilkan aroma seperti sayuran busuk atau telur busuk. Namun, bau yang menyerupai feses berasal dari indole dan skatole—zat yang biasanya diproduksi bakteri usus, tetapi juga dapat dihasilkan di mulut ketika bakteri periodontal memecah protein. Beberapa bakteri periodontal juga memproduksi asam butirat (bau keju busuk) dan asam valerat (bau asam tengik), yang turut memperkuat aroma tidak sedap.
Mengapa seseorang tidak menyadari bau mulutnya sendiri? Oho menjelaskan bahwa manusia terus-menerus mencium napasnya sendiri sehingga mengalami olfactory fatigue atau kelelahan penciuman. Akibatnya, mereka tidak mampu lagi membedakan bau tersebut. Dalam praktiknya, banyak pasien datang ke klinik justru karena ditegur orang lain. Oho mencontohkan seorang pasien dengan hasil tes bau hampir 100 kali lipat di atas ambang batas, namun ia mengaku tidak pernah khawatir. Sebaliknya, pasien lain yang hasilnya di bawah ambang batas tetap menjalani tes sembilan kali karena kecemasan berlebihan—kondisi yang disebut halitophobia.
Meskipun bau mulut kadang dipicu oleh gangguan saluran cerna atau pernapasan, sebagian besar kasus berasal dari rongga mulut. Solusinya, menurut Oho, sederhana: bersihkan bakteri dan sumber nutrisinya, yaitu mukosa terkelupas dan sisa makanan. Perhatian khusus perlu diberikan pada lidah bagian belakang, tempat lapisan putih (tongue coating) paling sering menumpuk. Menyikat lidah sekali sehari dengan sikat lidah, serta membersihkan sela gigi dengan benang atau sikat interdental, dapat mengurangi produksi hidrogen sulfida yang menyebabkan bau apek.
Kebersihan mulut tidak hanya berdampak pada kesegaran napas. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri mulut berkaitan dengan penyakit jantung dan diabetes. Oho menekankan bahwa menjaga kebersihan mulut merupakan investasi bagi kesehatan secara menyeluruh. Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya perawatan mulut masih perlu ditingkatkan, mengingat banyak masyarakat yang mengabaikan kebersihan lidah dan sela gigi. Pertanyaannya, sudahkah Anda memeriksa napas Anda hari ini?



