Studi Baru: Tujuh Gelas Alkohol Per Minggu Sudah Berisiko Kematian
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menunjukkan risiko kematian akibat alkohol meningkat tajam setelah konsumsi tujuh gelas per minggu, dengan satu dari seribu orang berpotensi meninggal.
- Tidak ada level konsumsi alkohol yang benar-benar aman; manfaat kardiovaskular yang dulu diyakini kini terbantahkan oleh bukti peningkatan risiko kanker dan penyakit hati.
- Temuan ini mendorong perlunya edukasi publik dan penyesuaian pedoman konsumsi alkohol, termasuk di Indonesia yang memiliki budaya minum tradisional.

Konsumsi alkohol sebanyak tujuh gelas per minggu—setara satu gelas per hari—kini dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian yang signifikan, menurut analisis terbaru yang dipublikasikan di Journal of Studies on Alcohol and Drugs. Studi ini menegaskan bahwa tidak ada ambang batas aman untuk minum alkohol, dan manfaat kesehatan yang selama ini diasosiasikan dengan konsumsi moderat, seperti perlindungan jantung, ternyata tidak cukup untuk mengimbangi bahaya yang ditimbulkan.
Tim peneliti meninjau lebih dari 7.000 studi ilmiah dan memilih 16 penelitian berkualitas tinggi untuk dianalisis. Mereka menggabungkan data risiko kesehatan terkait alkohol—termasuk kanker, penyakit kardiovaskular, dan sirosis hati—dengan statistik kematian nasional di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan pola yang jelas: semakin tinggi konsumsi mingguan, semakin besar risiko kematian yang dapat diatribusikan pada alkohol.
Pada konsumsi tujuh gelas per minggu, risiko kematian seumur hidup akibat alkohol mencapai 1 banding 1.000. Angka ini melonjak drastis menjadi 1 banding 100 ketika konsumsi melebihi 8,5 gelas per minggu, dan menjadi 1 banding 25 pada 14 gelas per minggu. Bahkan konsumsi satu gelas per hari sudah terkait dengan peningkatan risiko kematian akibat sirosis, kanker esofagus, dan kanker mulut. Pada perempuan, risiko kanker payudara juga meningkat seiring bertambahnya jumlah minuman.
Studi ini juga meneliti klaim sebelumnya tentang manfaat alkohol terhadap penyakit jantung iskemik dan stroke. Meskipun beberapa riset lama menunjukkan efek perlindungan, analisis terkini menemukan bahwa potensi manfaat tersebut sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan penyakit dan cedera terkait alkohol. Dengan kata lain, tidak ada keuntungan bersih bagi kesehatan secara keseluruhan.
Dokter spesialis bedah kolorektal Ketan Thanki, yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan temuan ini tidak mengejutkan. "Efek berbahaya alkohol pada tubuh sudah mapan," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa metabolisme alkohol menghasilkan senyawa seperti asetaldehida dan radikal bebas yang dapat merusak DNA dan memicu mutasi penyebab kanker. Alkohol juga mengganggu fungsi hati, mengubah kadar hormon, dan melemahkan sistem imun. Thanki menyarankan untuk menjaga konsumsi tetap rendah dan jarang demi kesehatan jangka panjang.
Sementara itu, ahli jantung intervensi Cheng-Han Chen menambahkan bahwa penelitian ini sejalan dengan bukti yang berkembang bahwa alkohol tidak memberikan manfaat kardiovaskular seperti yang dulu dipercaya. "Selama ini kita mengira minum anggur merah secukupnya itu baik. Banyak studi, termasuk yang terbaru ini, menunjukkan bahwa berapa pun jumlah alkohol, termasuk anggur merah, dapat menyebabkan kerusakan," kata Chen. Ia kini menyarankan pasiennya untuk minum sesedikit mungkin, dan lebih baik tidak sama sekali.
Di Indonesia, temuan ini relevan mengingat budaya konsumsi alkohol di berbagai daerah, mulai dari tuak di Sumatera hingga sopi di Nusa Tenggara. Meskipun tingkat konsumsi per kapita relatif rendah dibandingkan negara Barat, kebiasaan minum dalam jumlah besar pada acara sosial masih lazim. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memiliki pedoman khusus tentang batas aman konsumsi alkohol, sehingga edukasi publik menjadi krusial. Studi ini menegaskan bahwa tidak ada level minum yang bebas risiko, dan setiap tegukan membawa konsekuensi kesehatan yang terukur.
Ke depan, para peneliti berharap temuan ini mendorong pembaruan pedoman konsumsi alkohol di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pertanyaan yang muncul: akankah masyarakat bersedia mengurangi konsumsi alkohol demi kesehatan jangka panjang, atau justru mengabaikan bukti ilmiah karena faktor sosial dan budaya?



