Vaksin Pertama yang Dirancang AI Uji Coba pada Manusia: Satu Suntikan untuk Semua Virus Corona?
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti Cambridge mengembangkan vaksin DNA yang komponen utamanya dirancang sepenuhnya oleh kecerdasan buatan, dan telah diuji pada manusia untuk pertama kalinya.
- Vaksin ini menargetkan bagian virus yang tidak mudah berubah dari keluarga sarbecovirus, berpotensi memberikan perlindungan luas terhadap varian SARS, COVID-19, dan virus kelelawar terkait.
- Jika berhasil, teknologi ini bisa merevolusi respons terhadap pandemi di masa depan, termasuk di Indonesia yang rentan terhadap penyakit menular baru.

Untuk pertama kalinya, vaksin yang komponen utamanya dirancang oleh kecerdasan buatan (AI) telah diuji pada manusia. Tim peneliti dari University of Cambridge mengembangkan vaksin DNA yang tidak hanya menargetkan varian virus Corona yang sudah dikenal, tetapi juga virus kelelawar yang berpotensi menjadi pandemi berikutnya.
Vaksin konvensional melatih sistem imun untuk mengenali satu virus spesifik. Namun, virus bermutasi, dan ketika perubahan cukup besar, vaksin kehilangan efektivitasnya. Inilah mengapa vaksin flu perlu diperbarui setiap tahun dan vaksin COVID-19 terus disesuaikan sejak 2021. AI menawarkan pendekatan berbeda: dengan menganalisis data genetik ribuan virus terkait, AI dapat mengidentifikasi bagian yang tetap sama di berbagai strain dan cenderung tidak berubah seiring waktu. Bagian yang stabil inilah yang menjadi target vaksin.
Para peneliti Cambridge menggunakan AI untuk memindai virus dari keluarga sarbecovirus, yang mencakup virus penyebab SARS dan COVID-19, serta berbagai virus corona hewan. Mereka mencari fitur bersama yang hampir tidak tersentuh evolusi. Fitur tersebut kemudian menjadi dasar vaksin. Hasil uji coba menunjukkan vaksin ini mampu merangsang sistem imun untuk memproduksi antibodi yang mengenali berbagai jenis sarbecovirus, dan teknologi ini dinilai aman serta ditoleransi dengan baik.
Keunggulan vaksin DNA dibanding mRNA terletak pada stabilitasnya. Vaksin DNA tidak memerlukan penyimpanan suhu sangat rendah, menjadikannya lebih praktis untuk negara dengan infrastruktur rantai dingin terbatas, termasuk Indonesia. Metode pemberian tanpa jarum juga memudahkan vaksinasi massal saat wabah. Namun, tantangan masih ada: respons imun yang dihasilkan masih tergolong moderat, dan durasi perlindungan belum diketahui pasti. Uji coba lebih besar diperlukan untuk membuktikan efektivitasnya di dunia nyata.
Bagi Indonesia, pengembangan vaksin universal ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan populasi besar dan mobilitas tinggi, Indonesia rentan terhadap kemunculan varian baru. Jika vaksin ini terbukti efektif, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada vaksin yang diperbarui setiap musim. Selain itu, kemudahan penyimpanan dan distribusi tanpa rantai dingin akan sangat membantu daerah terpencil. Pemerintah Indonesia dapat memantau perkembangan ini sebagai bagian dari kesiapsiagaan pandemi nasional.
Menurut para ahli, vaksin universal masih membutuhkan waktu beberapa tahun lagi sebelum dapat digunakan secara luas. Namun, uji coba ini membuktikan bahwa AI dapat mempercepat penemuan vaksin yang kebal terhadap mutasi. Pertanyaan selanjutnya: mampukah teknologi ini mengakhiri siklus vaksinasi berulang dan memberikan perlindungan jangka panjang yang sesungguhnya?



