Mimpi Panggung Dunia Pupus: Wasit Somalia Dideportasi AS Jelang Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal bertugas di Piala Dunia 2026 setelah ditolak masuk AS meski memiliki visa dan paspor diplomatik yang sah.
- Penolakan ini dikaitkan dengan kebijakan larangan perjalanan AS terhadap sejumlah negara mayoritas Muslim, termasuk Somalia, yang diperketat di era Trump.
- Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi jelang turnamen, memicu kritik dari berbagai pihak termasuk mantan pemain Inggris Ian Wright.

Wasit asal Somalia, Omar Artan, harus mengubur mimpinya menjadi wasit pertama dari negaranya yang bertugas di Piala Dunia setelah otoritas imigrasi Amerika Serikat menolak masuknya di Bandara Internasional Miami, meski ia mengantongi visa dan paspor diplomatik yang lengkap.
Artan, yang telah ditunjuk sebagai ofisial untuk Piala Dunia 2026, menjalani pemeriksaan imigrasi selama 11 jam sebelum akhirnya ditahan dan diterbangkan kembali ke Istanbul, Turki. Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mengonfirmasi bahwa Artan tidak akan dapat berpartisipasi dalam turnamen yang akan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli tersebut. โSaya sangat kecewa. Saya hanya seorang wasit yang mencoba mewujudkan mimpi terbesar dalam hidup saya,โ ujar Artan kepada New York Times.
Penolakan ini terjadi di tengah kebijakan larangan perjalanan (travel ban) yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara, termasuk Somalia. Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari otoritas imigrasi AS mengenai alasan spesifik penolakan, seorang pejabat kedutaan Somalia di Nairobi mengonfirmasi bahwa Artan telah dilengkapi dengan paspor diplomatik yang diterbitkan khusus untuk memfasilitasi perjalanannya setelah kesulitan visa sebelumnya. โSaya punya dokumen yang benar dan visa yang benar,โ tegas Artan.
Kepala Satgas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, membela keputusan Bea Cukai dan Patroli Perbatasan AS, meskipun ia tidak merinci informasi yang memberatkan Artan. โItu adalah keputusan yang tepat,โ katanya kepada BBC World Service. Sementara itu, mantan striker timnas Inggris Ian Wright mengecam insiden ini sebagai bagian dari โPiala Dunia kekacauanโ. Dalam unggahan Instagram, ia menyoroti mahalnya tiket, akomodasi, dan transportasi, serta penolakan terhadap penggemar, pemain, jurnalis, dan kini ofisial. โApakah ini cara tuan rumah memperlakukan turnamen terbesar di dunia?โ tanyanya.
Bagi Indonesia, kasus Artan menjadi pengingat akan pentingnya kepastian hukum dan transparansi dalam proses imigrasi negara tuan rumah acara global. Dengan banyaknya warga Indonesia yang bermimpi menyaksikan Piala Dunia langsung, pengalaman Artan menimbulkan kekhawatiran tentang potensi diskriminasi atau hambatan serupa. Selain itu, Indonesia yang kerap mengirimkan atlet dan ofisial ke ajang internasional perlu mencermati bagaimana kebijakan imigrasi negara lain dapat mempengaruhi partisipasi mereka.
FIFA, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah dan tidak dapat mengubah status Artan saat ini. Ketua wasit Pierluigi Collina telah menyiapkan pusat pelatihan di Miami untuk seluruh 52 wasit dan 88 asisten wasit turnamen, yang mewajibkan semua ofisial untuk tinggal di Florida selama persiapan. Dengan demikian, tidak ada opsi bagi Artan untuk bertugas hanya di Kanada atau Meksiko.
Insiden ini menambah daftar kontroversi menjelang Piala Dunia 2026, termasuk pencabutan alokasi tiket untuk penggemar Iran. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah turnamen ini mampu mengembalikan semangat olahraga yang inklusif, atau justru terus diwarnai oleh politik dan diskriminasi?



