Permintaan Menguat, Bank Sentral Nigeria Raup Rp128 Triliun dari Lelang Surat Utang
Baca dalam 60 detik
- CBN mengumpulkan dana setara Rp128 triliun dari lelang OMO dan Treasury bills pekan lalu, dengan kelebihan permintaan hingga lima kali lipat.
- Lelang OMO mencatat total penawaran Rp88 triliun, sementara Treasury bills dibanjiri permintaan lebih dari dua kali lipat dari nilai yang ditawarkan.
- Lonjakan likuiditas sistem keuangan Nigeria diperkirakan berlanjut pekan ini, didukung jatuh tempo surat utang senilai Rp37 triliun.

Bank Sentral Nigeria (CBN) meraup dana segar sebesar NGN4,5 triliun atau setara Rp128 triliun melalui lelang surat berharga pasar terbuka (OMO) dan Treasury bills pekan lalu. Angka ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset berbasis naira di tengah ketidakpastian pasar global.
Dalam lelang OMO, CBN menawarkan NGN600 miliar, namun permintaan yang masuk mencapai NGN3,3 triliun—lebih dari lima kali lipat jumlah yang ditawarkan. Dari total penawaran tersebut, bank sentral mengalokasikan sekitar NGN3 triliun, dengan rincian: NGN169 miliar untuk tenor 7 hari pada tingkat bunga 21,5%, NGN465 miliar untuk tenor 35 hari pada 21,4%, dan NGN2,4 triliun untuk tenor 133 hari pada 20,0%. Data ini dirilis oleh CSL Stockbrokers dalam catatan risetnya, Senin (10/3).
Sementara itu, Debt Management Office (DMO) yang bertindak atas nama CBN juga menggelar lelang Treasury bills senilai NGN1 triliun. Permintaan investor kembali melonjak, dengan total penawaran mencapai NGN2,2 triliun—lebih dari dua kali lipat nilai yang ditawarkan. Alokasi akhir mencapai NGN1,5 triliun, terdiri dari NGN131,2 miliar untuk tenor 91 hari pada tingkat bunga 16,1%, NGN83 miliar untuk tenor 182 hari pada 16,2%, dan NGN1,2 triliun untuk tenor 364 hari pada 16,4%.
Pekan ini, pasar memperkirakan akan ada arus masuk likuiditas sebesar NGN1,25 triliun dari jatuh tempo OMO bills dan NGN144,4 miliar dari Treasury bills. Hal ini berpotensi mendongkrak likuiditas sistem keuangan Nigeria yang pekan lalu justru menyusut dari NGN6 triliun menjadi NGN4,8 triliun. Penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya penempatan bersih bank di fasilitas Standing Deposit Facility serta penjualan bersih surat berharga negara.
Di pasar sekunder, aktivitas perdagangan tetap bullish, mencerminkan selera investor yang kuat terhadap instrumen pendapatan tetap jangka pendek. Imbal hasil rata-rata Treasury bills Nigeria turun tipis 8 basis poin menjadi 17,8%. CSL Stockbrokers memperkirakan sentimen positif akan bertahan, didukung oleh preferensi investor terhadap instrumen jangka pendek di tengah risiko global dan ketidakpastian arus modal.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga daya tarik instrumen utang domestik di tengah persaingan global. Tingkat bunga yang kompetitif dan stabilitas makroekonomi menjadi kunci untuk menarik minat investor asing, terutama saat pasar global sedang bergejolak. Langkah CBN yang agresif dalam menyerap likuiditas melalui lelang juga patut dicermati sebagai strategi pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah CBN mampu mempertahankan momentum ini tanpa membebani biaya utang negara. Dengan tingkat bunga yang masih tinggi, tekanan fiskal bisa meningkat. Namun, jika likuiditas terus mengalir, Nigeria mungkin bisa memperpanjang tenor utangnya dan menurunkan biaya pinjaman secara bertahap.



