GIC Catat Imbal Hasil Terendah dalam Enam Tahun, Alokasi Dana ke AI dan Hedge Fund Digenjot
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil riil tahunan GIC selama 20 tahun turun ke 3,4%, level terendah sejak 2020, akibat strategi defensif di tengah ketidakpastian global.
- Dana kekayaan negara Singapura itu akan menggelontorkan US$30 miliar tambahan ke hedge fund dan memperluas investasi di tiga kategori AI: enabler, monetiser, dan adopter.
- Perubahan kerangka investasi GIC menekankan fleksibilitas alokasi aset, dengan fokus pada faktor pendorong imbal hasil, bukan kelas aset tradisional.

Imbal hasil investasi jangka panjang GIC, pengelola cadangan devisa Singapura, merosot ke titik terendah dalam enam tahun terakhir. Dalam laporan tahunan yang dirilis Jumat (24/7), dana kekayaan negara itu mencatat tingkat imbal hasil riil tahunan rata-rata 20 tahun sebesar 3,4%, turun dari 3,8% tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 2,7% pada FY2019/2020.
Penurunan ini terjadi untuk tahun ketiga berturut-turut, sejalan dengan sikap hati-hati GIC yang memprioritaskan ketahanan portofolio di tengah apa yang disebutnya sebagai "ketidakpastian yang mendalam". CEO Lim Chow Kiat menegaskan bahwa langkah mengurangi risiko adalah keputusan sadar demi melindungi nilai cadangan negara. "Ini memberi kami perlindungan sisi bawah yang lebih besar dan fleksibilitas untuk bertindak saat peluang muncul," ujarnya.
GIC mengelola cadangan Singapura dan berkontribusi pada anggaran nasional setiap tahun. Mandat utamanya adalah menjaga dan meningkatkan daya beli cadangan tersebut. Namun, tantangan ke depan semakin ketat. GIC menyoroti perubahan tatanan dunia, meningkatnya risiko fiskal, dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) sebagai kekuatan yang akan terus membentuk lanskap investasi dan memengaruhi imbal hasil portofolio.
Meski imbal hasil menurun, GIC tetap agresif di sektor tertentu. AI menjadi fokus utama investasi. Grup Chief Investment Officer Bryan Yeo mengungkapkan bahwa ekosistem AI semakin kompleks seiring skala teknologi, sehingga memilih pemenang menjadi lebih sulit. GIC tidak mengambil pendekatan eksposur luas, melainkan mengelompokkan investasi AI ke dalam tiga kategori: enabler (penyedia infrastruktur seperti Vantage Data Centres dan Anthropic), monetiser (pemilik platform seperti Databricks dan Ramp), serta adopter (pengguna AI seperti Athenahealth dan Eli Lilly).
"Dalam beberapa tahun ke depan, kami perkirakan banyak penciptaan nilai akan terjadi di ruang adopter," kata Yeo. Namun, ia mengakui mengidentifikasi pemenang di area itu merupakan tantangan tersendiri. GIC juga berencana menambah alokasi dana ke hedge fund sebesar US$30 miliar dalam tiga tahun ke depan, di atas investasi yang sudah tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Menyoal potensi gelembung AI, Yeo mengatakan GIC secara agregat menilai eksposurnya dengan tiga pertanyaan: apakah terlalu banyak, terlalu sedikit, atau sudah pas? Ia juga mengingatkan bahwa ruang non-AI mungkin terabaikan dan valuasinya lebih murah. "Sebagai investor jangka panjang, jika Anda melihat 20 tahun ke depan, Anda tidak ingin semuanya hanya di AI saja," tegasnya. GIC juga terus-menerus menilai ulang kepemilikannya karena definisi investasi AI semakin kabur seiring teknologi yang meresap.
GIC mulai bertransisi ke kerangka investasi baru pada 1 April. CEO Lim Chow Kiat menyebut dua alasan: dunia telah "berubah secara fundamental" dan GIC telah membangun kapabilitas yang perlu dimanfaatkan melalui fleksibilitas lebih besar. Kerangka baru ini berpusat pada portofolio strategis yang mewakili selera risiko pemerintah dan ekspektasi imbal hasil jangka panjang, terdiri dari tiga kelompok aset luas: ekuitas untuk pertumbuhan, pendapatan tetap untuk penghasilan, dan aset riil untuk lindung nilai inflasi. GIC tidak mengungkapkan bobot masing-masing kelas aset. Alih-alih mengelompokkan berdasarkan kelas aset tradisional, GIC akan fokus pada faktor-faktor mendasar yang mendorong imbal hasil, sehingga alokasi modal lebih lincah dan fleksibel.
Bagi investor Indonesia, langkah GIC ini memberikan gambaran bagaimana pengelola dana besar menghadapi ketidakpastian global. Dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang masih menarik, strategi diversifikasi dan fokus pada AI bisa menjadi referensi bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atau investor institusi lain dalam mengelola portofolio jangka panjang. Pertanyaannya, akankah pendekatan serupa diadopsi di tengah dinamika geopolitik dan tekanan fiskal yang juga dialami Indonesia?



