Satay Beracun: Suami di Boyolali Nekat Bunuh Ibu Mertua Gara-Gara Sakit Hati
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria di Boyolali, Jawa Tengah, ditangkap polisi setelah diduga meracuni ibu mertuanya dengan sate ayam yang dicampur racun tikus.
- Pelaku, Purwadi Wahyudi, memesan sate melalui aplikasi ojek online, mengganti kemasan, dan mengirimkannya ke korban dengan menyamar sebagai adik ipar.
- Kasus ini mengungkap celah keamanan layanan pesan-antar makanan yang bisa disalahgunakan untuk tindak kriminal, dengan pelaku terancam hukuman mati.

Seorang pria berusia 40 tahun di Boyolali, Jawa Tengah, nekat menghabisi nyawa ibu mertuanya dengan mengirimkan sate ayam yang telah dicampur racun tikus melalui jasa ojek online. Peristiwa ini terkuak setelah keluarga mencurigai kematian Aminah (57) bukan karena sebab alami, dan polisi menemukan jejak racun di organ tubuh korban.
Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Boyolali, Indrawan Wira Saputra, pelaku Purwadi Wahyudi merasa sakit hati karena kerap direndahkan oleh korban. Ia lantas merencanakan pembunuhan secara matang. Pada 18 Mei lalu, Purwadi memesan sate ayam dari seorang penjual, lalu mencelupkan tusuk sate ke dalam cairan beracun yang diduga racun tikus. Setelah itu, ia mengganti kemasan sate dengan bungkusan berbeda dan memesan ojek online untuk mengantarkan makanan tersebut ke rumah korban.
Untuk mengelabui, Purwadi menggunakan nama dan foto adik iparnya, Luriyanti Putri, sebagai akun pemesan di aplikasi ojek online. Ia juga menyamar sebagai perempuan saat berkomunikasi dengan driver. Namun, driver sempat curiga karena ekspektasinya menjemput seorang perempuan, tetapi yang keluar adalah laki-laki. Penjual sate juga mengonfirmasi bahwa kemasan saat dikirim berbeda dengan yang diberikan kepada Purwadi.
Korban sempat menerima kiriman sate tersebut pada siang hari, namun putri bungsunya, Luriyanti Putri, mengaku bukan pemesan dan telah memperingatkan ibunya untuk tidak memakan sate itu. Sayangnya, Aminah tetap menyantapnya. Keesokan harinya, Putri menemukan ibunya sudah meninggal dengan mulut berbusa. Keluarga kemudian memakamkan korban, namun karena curiga, mereka melapor ke polisi. Atas izin keluarga, jenazah diekshumasi dan hasil forensik menunjukkan adanya racun di sebagian besar organ vital korban.
Kasus ini menyoroti celah keamanan dalam layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi. Pelaku dengan mudah memanfaatkan identitas orang lain untuk memesan dan mengirimkan barang berbahaya. Polisi masih mendalami apakah ada unsur perencanaan lebih lanjut dan apakah pelaku bertindak sendiri. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap kiriman makanan dari pihak tidak dikenal, meskipun menggunakan jasa pengiriman resmi.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi preseden bagi penguatan regulasi layanan ojek online, terutama dalam verifikasi identitas pengguna dan pengawasan paket mencurigakan. Apakah platform akan memperketat sistem keamanan atau justru membiarkan celah ini terbuka lebar?



