Populasi Albatros Ekor-Pendek di Jepang Tembus 10.000 Ekor, Pulih dari Ambang Kepunahan
Baca dalam 60 detik
- Survei Yamashina Institute mencatat 11.067 ekor albatros ekor-pendek di Torishima, naik 12% dari tahun lalu, dengan 1.591 anakan.
- Spesies ini sempat dinyatakan punah pada 1949 akibat perburuan bulu, namun 10 individu ditemukan kembali pada 1951.
- Ancaman vulkanik di Torishima mendorong upaya pembentukan koloni baru di Mukojima sejak 2000-an.

Populasi burung laut albatros ekor-pendek (Phoebastria albatrus) yang terancam punah di sebuah pulau terpencil Jepang kini melampaui 10.000 ekor untuk pertama kalinya sejak spesies ini ditemukan kembali 75 tahun lalu. Temuan ini menandai pemulihan luar biasa setelah burung tersebut sempat dianggap lenyap dari muka bumi.
Yamashina Institute for Ornithology melaporkan bahwa survei penangkaran yang dilakukan pada Februari–Maret 2026 mendapati 11.067 ekor albatros di Pulau Torishima, bagian dari Kepulauan Izu di Samudra Pasifik. Jumlah ini meningkat 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan 1.591 ekor anakan yang berhasil diidentifikasi. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sejak spesies ini ditemukan kembali pada 1951.
Albatros ekor-pendek pernah diburu habis-habisan untuk diambil bulunya antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Survei pada 1949 menyimpulkan burung ini telah punah, namun pada 1951 sekitar 10 individu ditemukan masih bertahan di Torishima. Sejak saat itu, populasi perlahan pulih berkat perlindungan ketat dan program konservasi.
Meski kabar ini menggembirakan, ancaman masih membayangi. Pulau Torishima adalah gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus dan menghancurkan habitat berkembang biak. Oleh karena itu, para peneliti memprioritaskan pembentukan koloni alternatif di tempat yang lebih aman. Sejak tahun 2000-an, upaya translokasi dan pemanggilan buatan telah dilakukan di Pulau Mukojima, Kepulauan Ogasawara, yang diketahui pernah menjadi tempat bersarang spesies ini di masa lalu.
Bagi Indonesia, kisah pemulihan albatros ekor-pendek menjadi pelajaran berharga dalam konservasi spesies terancam. Indonesia sendiri memiliki beberapa jenis burung laut yang terancam punah, seperti elang laut dan beberapa spesies camar. Upaya perlindungan habitat dan pengendalian perburuan liar menjadi kunci keberhasilan, sebagaimana ditunjukkan oleh Jepang. Selain itu, kerja sama regional dalam pengelolaan kawasan laut dan pulau-pulau terpencil dapat memperkuat upaya konservasi di kawasan Asia-Pasifik.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan koloni baru di Mukojima benar-benar mandiri dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Sementara itu, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi letusan Torishima. Pertanyaan yang masih menggantung: akankah populasi ini terus bertambah, atau ancaman alam akan mengembalikan mereka ke jurang kepunahan?



