Beruang Hitam Jepang Ditangkap Setelah Teror Warga, Satu Lagi Buron
Baca dalam 60 detik
- Seekor beruang hitam seberat 100 kg berhasil dilumpuhkan di Utsunomiya setelah lebih dari 20 kali terlihat di pemukiman, memicu penutupan 94 sekolah.
- Serangan beruang di Jepang mencapai rekor tertinggi pada 2025 dengan 238 korban, termasuk 13 tewas, mendorong pemerintah membentuk satgas darurat.
- Teknologi seperti drone termal dan robot serigala tenaga surya mulai diandalkan untuk mitigasi konflik manusia-satwa liar di Jepang.

Otoritas Jepang akhirnya melumpuhkan seekor beruang hitam yang selama berhari-hari meresahkan warga di Kota Utsunomiya, sekitar 100 kilometer utara Tokyo, setelah proses penangkapan yang menegangkan selama hampir dua jam. Hewan tersebut, yang diperkirakan memiliki bobot 100 kilogram, berhasil dibius menggunakan tiga kali tembakan tranqulizer setelah tembakan pertama meleset.
Kemunculan beruang di kawasan padat penduduk—yang dihuni setengah juta jiwa—ini tergolong langka dan memicu kepanikan. Sejak Sabtu pekan lalu, warga melaporkan melihatnya lebih dari 20 kali di dekat rumah, sekolah, dan taman. Bahkan, hewan itu sempat terlihat berenang di sungai dan memanjat pagar pekarangan. Akibatnya, seluruh 94 sekolah dasar dan menengah negeri di kota itu diliburkan.
Penangkapan yang dilakukan pada Selasa lalu itu berlangsung sekitar 1 jam 40 menit sejak petugas memastikan lokasi beruang, sekitar 2,5 kilometer di selatan stasiun kereta utama. Polisi setempat menduga mungkin ada dua beruang yang berkeliaran, sehingga warga diminta tetap waspada dan mengunci pintu serta jendela rumah.
Di tempat terpisah, seekor beruang lain yang disebut Wali Kota Fukushima sebagai "sangat cerdas" masih buron. Pekan lalu, hewan tersebut menyerang dan melukai empat orang di distrik perumahan Fukushima. Upaya pembiusan gagal, dan beruang itu kabur dari pabrik elektronik yang dikepung polisi setelah diduga membuka sendiri kunci jendela. Petugas juga melihatnya minum dari keran air, yang diduga diputar sendiri oleh beruang tersebut. Pencarian kini menggunakan drone.
Lonjakan serangan beruang di Jepang telah mendorong pemerintah membentuk satuan tugas tingkat menteri dan menerapkan langkah darurat sejak awal tahun. Fenomena ini tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga mengubah pendekatan pengelolaan satwa liar di negara tersebut. Para ahli memperkirakan faktor perubahan habitat dan berkurangnya sumber makanan alami mendorong beruang semakin sering memasuki permukiman.
Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah dan perusahaan swasta mulai mengandalkan teknologi. Di Prefektur Fukushima, sebuah desa tengah mempertimbangkan sistem analisis gambar bertenaga kecerdasan buatan untuk kamera jejak. Sementara itu, KDDI SmartDrone menawarkan pesawat nirawak dengan kamera termal yang mampu melacak beruang di semak lebat tanpa perlu pelatihan khusus bagi operator. Drone ini dapat mengikuti pergerakan beruang hingga pemburu atau polisi tiba di lokasi.
Inovasi lain datang dari Ohta Seiki yang pada 2016 meluncurkan "Super Monster Wolf", robot serigala bertenaga surya yang dirancang untuk menakuti beruang dan satwa liar lainnya. Perusahaan melaporkan telah menerima puluhan pesanan pada 2026 saja, jauh melampaui permintaan tahun-tahun biasa. Ini menandakan bahwa solusi non-mematikan semakin dicari sebagai alternatif penanganan konflik.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi konflik manusia-satwa liar, terutama di daerah yang berbatasan dengan hutan. Meskipun spesies beruang hitam tidak ditemukan di Indonesia, peningkatan interaksi dengan satwa seperti harimau, gajah, atau monyet kerap terjadi akibat alih fungsi lahan. Teknologi serupa—seperti drone termal atau sistem peringatan dini berbasis AI—bisa diadopsi untuk mengurangi risiko tanpa harus melukai satwa.
Ke depan, Jepang harus memutuskan apakah akan terus mengandalkan teknologi dan penangkapan selektif, atau justru mereformasi kebijakan pengelolaan habitat secara lebih fundamental. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah inovasi teknologi mengejar laju degradasi lingkungan yang memicu konflik ini?



