Jepang Sukses Luncurkan Roket H3 Bermesin Cair Penuh, Bukti Lini Produk Lengkap
Baca dalam 60 detik
- Roket H3 No. 6 lepas landas dari Tanegashima, Jepang, pada Jumat (12/6) dengan konfigurasi tiga mesin utama tanpa booster padat, menandai pertama kalinya Jepang menggunakan roket berbahan bakar cair murni.
- Misi ini membawa enam satelit kecil, termasuk satelit observasi laut Umitsubame dan Shiraito untuk uji coba pembersihan sampah antariksa, setelah dua kegagalan sebelumnya pada 2023 dan 2024.
- Keberhasilan ini melengkapi tiga varian H3 dan membuka peluang bagi Jepang untuk bersaing di pasar peluncuran komersial global, termasuk potensi kerja sama dengan Indonesia dalam observasi maritim.

Jepang akhirnya mencatatkan sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah roket H3 No. 6 berhasil lepas landas dari Pusat Luar Angkasa Tanegashima, Prefektur Kagoshima, pada Jumat (12/6) pagi waktu setempat. Ini adalah kali pertama Negeri Sakura meluncurkan roket yang sepenuhnya menggunakan mesin berbahan bakar cair, tanpa bantuan roket pendorong padat (booster). Keberhasilan ini sekaligus menuntaskan rangkaian tiga konfigurasi roket H3 yang selama ini dikembangkan oleh Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA).
Roket setinggi 63 meter itu membawa enam satelit kecil ke orbit, termasuk Umitsubame buatan Institut Sains Tokyo yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi untuk mengamati kondisi laut, serta Shiraito dari Universitas Shizuoka yang dirancang untuk menguji teknologi penangkapan sampah antariksa. Misi ini sempat tertunda dua hari dari jadwal awal akibat prakiraan cuaca buruk di lokasi peluncuran.
Menurut JAXA, konfigurasi baru ini dirancang untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan fleksibilitas misi. Dengan tiga mesin utama dan tanpa booster, roket menjadi lebih ringan sehingga dapat membawa muatan lebih besar dengan biaya lebih rendah. Keberhasilan ini melengkapi tiga varian H3: tipe standar dengan dua booster, tipe dengan satu booster, dan kini tipe tanpa booster. JAXA menyebut pencapaian ini sebagai langkah penting menuju komersialisasi peluncuran roket Jepang.
Bagi Indonesia, keberhasilan H3 No. 6 membawa angin segar di tengah meningkatnya kebutuhan akan data observasi maritim. Satelit Umitsubame, misalnya, mampu memantau suhu permukaan laut, arus, dan polusi β informasi yang sangat dibutuhkan oleh nelayan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Apalagi, Indonesia sebagai negara kepulauan kerap menghadapi tantangan dalam pengawasan wilayah perairan. Teknologi pembersihan sampah antariksa yang diuji melalui Shiraito juga relevan mengingat meningkatnya jumlah puing di orbit yang mengancam satelit komunikasi dan observasi milik Indonesia.
Keberhasilan ini menjadi momentum bagi Jepang untuk memulihkan kepercayaan setelah dua kegagalan berturut-turut. Pada Maret 2023, roket H3 perdana harus dihancurkan sendiri karena mesin tahap kedua gagal menyala. Kemudian pada Desember 2024, upaya peluncuran kembali gagal menempatkan satelit ke orbit. JAXA mengakui bahwa uji pembakaran mesin pada Juli 2025 menemukan masalah yang menyebabkan penundaan peluncuran H3 No. 6, namun akhirnya berhasil diatasi.
Ke depan, Jepang berencana meningkatkan frekuensi peluncuran H3 menjadi enam kali per tahun untuk memenuhi permintaan pasar komersial. Dengan biaya yang lebih kompetitif, roket ini diharapkan mampu bersaing dengan Falcon 9 milik SpaceX. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk menjalin kerja sama peluncuran satelit dengan Jepang, atau justru akan terus bergantung pada penyedia jasa lain?



