Cathay Pacific Siapkan Ekspansi Besar: Ratusan Pesawat Baru dan Landasan Ketiga Hong Kong
Baca dalam 60 detik
- Cathay Pacific berencana menambah pesanan pesawat widebody, narrowbody, dan kargo untuk ekspansi dekade depan.
- Landasan ketiga Bandara Hong Kong menjadi katalis utama pertumbuhan, dengan target kapasitas naik 10% tahun ini.
- Anak usaha HK Express tetap setia pada armada Airbus, menutup peluang bagi Boeing di segmen jarak pendek.
Maskapai penerbangan Hong Kong, Cathay Pacific, mengumumkan rencana ambisius untuk menambah pesanan pesawat dalam jumlah besar di berbagai segmen, memanfaatkan momentum operasional landasan ketiga Bandara Hong Kong yang baru diresmikan. Langkah ini menjadi sinyal kebangkitan sektor penerbangan Asia yang sempat terpuruk akibat pandemi.
Dalam pernyataan di sela-sela Konferensi Penerbangan Internasional di Rio de Janeiro, CEO Cathay Pacific Ronald Lam menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat armada. “Akan ada lebih banyak pesanan, pasti,” ujarnya, seraya menyebut dekade mendatang sebagai “peluang emas” bagi grup. Saat ini Cathay sudah memiliki lebih dari 100 pesawat dalam buku pesanan, termasuk Boeing 777X yang sempat tertunda, Airbus A350 kargo, serta Airbus A320neo untuk anak usaha HK Express.
Lam mengindikasikan bahwa pesanan baru bisa berupa kontrak segar maupun opsi penambahan dari pesanan yang sudah ada. Ia juga menegaskan bahwa HK Express akan mempertahankan armada berbasis Airbus, menutup kemungkinan pembelian pesawat jarak pendek dari Boeing. Keputusan ini memperkuat dominasi Airbus di segmen low-cost carrier Asia.
Keputusan Cathay untuk terus ekspansi di tengah ketidakpastian geopolitik, seperti perang Iran yang mendongkrak harga avtur, menunjukkan optimisme yang hati-hati. Lam mengaku tidak akan memangkas kapasitas meskipun biaya operasional meningkat. “Kami tetap pada jalur pertumbuhan 10% tahun ini,” katanya. Strategi ini kontras dengan beberapa maskapai global yang justru mengurangi jadwal penerbangan.
Bagi Indonesia, ekspansi Cathay Pacific membawa implikasi positif. Hong Kong tetap menjadi hub utama bagi penumpang dan kargo Indonesia ke Asia Timur, Amerika Utara, dan Eropa. Dengan tambahan kapasitas, maskapai ini berpotensi membuka lebih banyak rute atau frekuensi ke Jakarta, Denpasar, dan Surabaya. Persaingan dengan maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air pun diprediksi semakin ketat di segmen premium dan kargo.
Lam juga menyoroti peran landasan ketiga sebagai game changer. Bandara Hong Kong yang sebelumnya kerap macet kini mampu menampung hingga 120 juta penumpang per tahun. Bagi Cathay, ini berarti peluang mengoptimalkan slot penerbangan dan memperluas jaringan. “Sepuluh tahun ke depan adalah momentum yang tak boleh dilewatkan,” tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Cathay mampu merealisasikan pertumbuhan tanpa mengorbankan profitabilitas, terutama jika harga bahan bakar terus merangkak naik. Dengan persaingan maskapai Timur Tengah dan Tiongkok daratan yang makin agresif, strategi ekspansi Cathay akan menjadi ujian bagi ketahanan model bisnisnya di era pascapandemi.



