Roket Andalan Jepang H3 Sukses Meluncur, Bangkit dari Kegagalan Sebelumnya
Baca dalam 60 detik
- Roket H3 Jepang berhasil lepas landas dari Tanegashima Space Center pada Jumat (12/6) setelah misi sebelumnya gagal pada Desember lalu.
- Roket ini membawa enam satelit kecil, termasuk satelit observasi Bumi dan uji coba penangkapan sampah antariksa.
- Keberhasilan ini menjadi krusial bagi JAXA untuk memulihkan kepercayaan dan mengejar target delapan peluncuran per tahun.

Roket andalan Jepang, H3, akhirnya berhasil meluncur pada Jumat (12/6) setelah misi sebelumnya berakhir gagal. Peluncuran yang disiarkan langsung itu menjadi tonggak penting bagi badan antariksa Jepang (JAXA) yang tengah berupaya memulihkan reputasi di tengah persaingan industri roket global.
Roket setinggi 63 meter itu membawa enam satelit kecil, termasuk satelit observasi Bumi bernama Umitsubame buatan Tokyo University of Science dan Shiraito dari Shizuoka University yang dirancang untuk menguji teknologi penangkapan sampah antariksa. Peluncuran dilakukan pada pukul 09.53 waktu setempat dari Tanegashima Space Center di selatan Jepang.
Enam menit setelah lepas landas, JAXA mengonfirmasi bahwa pembakaran tahap kedua, kendali sikap, dan lintasan berjalan normal. Keberhasilan ini menjadi angin segar setelah pada Desember lalu mesin tahap kedua mati sebelum waktunya, menyebabkan misi penempatan satelit geolokasi gagal total.
Manajer proyek H3, Makoto Arita, menyebut peluncuran ini sebagai momentum kebangkitan setelah kegagalan sebelumnya. "Ini krusial bagi kami untuk bangkit kembali," ujarnya sebelum lepas landas. Roket H3 dikembangkan dengan slogan "fleksibilitas tinggi, keandalan tinggi, dan biaya efektif" untuk meningkatkan daya saing industri antariksa Jepang.
Keberhasilan ini juga memiliki implikasi bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia. Jepang selama ini menjadi mitra strategis dalam pengembangan teknologi antariksa di Asia Tenggara. Dengan keandalan H3 yang mulai teruji, peluang kerja sama peluncuran satelit untuk kebutuhan telekomunikasi, observasi, dan mitigasi bencana di Indonesia semakin terbuka. Indonesia sendiri tengah mengembangkan program antariksa nasional, termasuk rencana peluncuran satelit sendiri.
Ke depan, JAXA berencana meningkatkan frekuensi peluncuran H3 hingga delapan kali setahun. Jika target ini tercapai, Jepang akan menjadi pemain utama dalam pasar peluncuran komersial, bersaing langsung dengan SpaceX dan Arianespace. Pertanyaannya, mampukah Jepang mempertahankan konsistensi ini setelah serangkaian kegagalan di masa lalu?



