Kisah Dua Saudara di Panggung Piala Dunia: Berjuang untuk Kenangan Sang Kakak
Baca dalam 60 detik
- Harry dan John Souttar akan membela Australia dan Skotlandia di Piala Dunia 2026, terpisah oleh grup namun bersatu dalam duka kehilangan kakak mereka, Aaron.
- Aaron Souttar, yang meninggal karena penyakit neuron motorik pada 2022, menjadi inspirasi utama karier kedua pemain dan mempererat hubungan mereka.
- Kisah ini menyoroti bagaimana tragedi keluarga dapat menjadi kekuatan pendorong di level tertinggi sepak bola internasional.

Dua bersaudara, dua bendera berbeda, satu panggung Piala Dunia. Harry Souttar, bek Leicester City yang membela Australia, dan John Souttar, bek Hearts yang memperkuat Skotlandia, akan memulai petualangan mereka di Amerika Serikat dan Kanada pada akhir pekan ini. Namun, di balik kebanggaan mewakili negara masing-masing, ada sosok yang tak akan pernah hadir di tribun: Aaron, kakak tercinta yang menjadi pahlawan sekaligus perekat hubungan mereka.
Aaron Souttar meninggal dunia pada Juli 2022 pada usia 42 tahun setelah berjuang melawan penyakit neuron motorik. Bagi Harry dan John, kepergiannya bukan sekadar kehilangan saudara, melainkan runtuhnya figur sentral yang membentuk jalan hidup mereka. Aaron, yang 18 tahun lebih tua dari Harry, digambarkan sebagai "ayah kedua" oleh sang adik. "Dia adalah panutan. Dia yang keren," kenang Harry.
Pengaruh Aaron melampaui sekadar gaya rambut atau selera musik yang ditiru kedua adiknya. Sebagai mantan pegolf berbakat dan penggemar sepak bola, Aaron berperan besar dalam membentuk karier Harry dan John. Setiap kali Aaron hadir di pinggir lapangan, Harry mengaku selalu berusaha lebih keras untuk mengesankannya. "Bermain dan melihatnya di sisi lapangan, saya selalu ingin membuatnya bangga," ujar pember 27 tahun itu.
John Souttar, yang kariernya kerap diganggu cedera serius, pernah mendedikasikan gol pertamanya untuk Skotlandiaโsaat kemenangan kualifikasi Piala Dunia melawan Denmark pada November 2021โkepada Aaron yang saat itu tengah berjuang melawan penyakit. "Kakak saya, Aaron, ada di rumah. Dia tidak bisa hadir malam ini, tapi gol itu untuknya karena dia banyak membantu saya selama rehabilitasi," kata John kala itu.
Keduanya berharap bisa satu grup di Piala Dunia, namun undian memisahkan mereka: Skotlandia di Grup B bersama Haiti, sementara Australia di Grup C melawan Turki. Meski begitu, kebersamaan yang terjalin justru semakin kuat setelah tragedi. "Saat Aaron sakit, itu mendekatkan saya dan John. Setelah kepergiannya, hubungan kami semakin erat," ungkap Harry. Dulu, karena tinggal di negara berbeda, komunikasi mereka jarang. Kini, pesan teks dan panggilan telepon menjadi rutin, bahkan hanya untuk "membicarakan hal-hal acak".
Bagi Indonesia, kisah Souttar menjadi pengingat bahwa Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, melainkan panggung emosi dan kemanusiaan. Di tengah euforia sepak bola global, cerita seperti ini menggarisbawahi bahwa di balik seragam tim nasional, ada individu dengan perjuangan pribadi yang luar biasa. Ketika Harry dan John berlaga di Amerika Utara, mereka tidak hanya membawa nama negara, tetapi juga warisan seorang kakak yang tak pernah berhenti menginspirasi.
Pertandingan perdana kedua bersaudara itu akan berlangsung pada hari yang sama: Skotlandia kontra Haiti pada pukul 02.00 BST, disusul Australia melawan Turki tiga jam kemudian. Bagi Harry, momen ini adalah puncak dari segala pengorbanan. "Saya sangat senang John ada di sini. Dia sempat absen di Euro beberapa tahun lalu dan itu sangat mengecewakannya. Kini, seluruh keluarga dipenuhi rasa bangga. Saya bangga padanya," tutup Harry. Pertanyaan yang menggantung: akankah kisah mereka menjadi salah satu narasi paling mengharukan di Piala Dunia tahun ini?


