Revolusi Juventus: Comolli Lengser, Carnevali dan Spalletti Jadi Andalan Baru
Baca dalam 60 detik
- Juventus menggelar rapat dewan darurat hari ini untuk merestrukturisasi manajemen setelah performa buruk dan ketegangan internal.
- Direktur olahraga Prancis Comolli akan mundur, digantikan oleh Giovanni Carnevali dari Sassuolo yang didukung pelatih Spalletti.
- Perombakan besar-besaran di tubuh klub mencakup perubahan personel, metode, dan strategi pasar transfer, dengan target prioritas Kolo, Sorloth, dan Martinez.

Juventus memasuki babak baru restrukturisasi besar-besaran setelah rapat dewan darurat hari ini memutuskan mundurnya direktur olahraga asal Prancis, yang hanya bertahan setahun akibat hasil mengecewakan dan ketegangan internal yang meluas. Langkah ini menjadi sinyal bahwa keluarga Elkann, sebagai pemilik, tidak lagi memberi toleransi atas kegagalan di lapangan dan ruang ganti.
Pergantian pucuk pimpinan ini tidak berhenti di satu posisi. Sumber internal menyebutkan bahwa Giovanni Carnevali, mantan direktur Sassuolo yang dikenal tajam dalam negosiasi transfer, akan segera diangkat sebagai CEO baru. Keputusan ini sekaligus mengukuhkan kemenangan politik Luciano Spalletti di internal klub, yang selama ini berseteru dengan manajer Prancis tersebut. Spalletti diproyeksikan mendapat kewenangan lebih besar dalam menentukan arah tim, termasuk dalam perburuan pemain.
Perombakan ini tidak hanya menyentuh level direksi. Beberapa staf kunci seperti Modesto dan Burgess juga akan meninggalkan klub, sementara target transfer mulai bergeser. Juventus dikabarkan masih memprioritaskan Kolo, Sorloth, dan Martinez sebagai rekrutan utama, namun juga mengincar Greenwood serta tambahan striker dan bek sayap. Di sisi lain, opsi perpanjangan kontrak hingga 2027 telah diaktifkan untuk Allegri, yang kehadirannya disebut-sebut akan mengubah segalanya dalam skema permainan.
Di luar hiruk-pikuk Juventus, berita lain mencuat dari bursa transfer Italia. Palestra dikabarkan hanya menginginkan Inter dan menolak tawaran lain, meski Atalanta mematok harga 55 juta euro. Sementara itu, pemilik klub lain justru semakin menjauhkan diri dari fans dengan surat terbuka yang kontroversial. Dana dan holding yang aktif di sektor olahraga juga mulai melirik kepemilikan stadion, dengan nilai klub diperkirakan di bawah 200 juta euro. Cairo masih berpikir, sementara Gazzi kembali sebagai manajer tim dan Petrachi merombak sektor medis.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika di Juventus ini menarik dicermati karena klub raksasa Italia itu memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Restrukturisasi manajemen dan perubahan strategi transfer bisa berdampak pada performa tim di Serie A dan Liga Champions, yang tentu menjadi tontonan utama pecinta sepak bola Indonesia. Selain itu, perburuan pemain seperti Greenwood juga bisa memicu spekulasi tentang kemungkinan pemain Indonesia merumput di Eropa, meski masih jauh panggang dari api.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah revolusi ala Elkann ini mampu mengembalikan Juventus ke puncak kejayaan, atau justru akan menimbulkan gejolak baru di tengah persaingan ketat dengan Inter, AC Milan, dan Napoli. Dengan Spalletti yang kini memegang kendali politik, publik menanti gebrakan pertama Carnevali di bursa transfer Januari nanti.



