MI5 Bongkar Modus Baru Mata-mata China: Rekrutmen Palsu di LinkedIn dan Indeed
Baca dalam 60 detik
- Badan intelijen Inggris MI5 mengungkap jaringan mata-mata China yang menyamar sebagai perekrut di platform kerja seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork untuk menjaring pegawai pemerintah dan militer.
- Modus operandi meliputi pemasangan iklan lowongan palsu, wawancara virtual untuk mengidentifikasi target yang memiliki akses informasi sensitif, dan pembayaran hingga ribuan dolar per laporan.
- Peringatan Five Eyes ini menyoroti kerentanan keamanan siber global, termasuk potensi dampak bagi Indonesia yang memiliki hubungan dagang dan keamanan dengan China.

Badan intelijen domestik Inggris, MI5, mengeluarkan peringatan keras terkait praktik spionase China yang menyusup melalui platform rekrutmen daring seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork. Dalam buletin bersama aliansi Five Eyes—yang meliputi Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Selandia Baru—diungkapkan bahwa agen China menyamar sebagai perekrut untuk menjebak pegawai pemerintah dan militer Inggris agar membocorkan rahasia negara.
Menurut buletin tersebut, para pelamar yang tertarik dengan lowongan analis palsu akan melalui serangkaian tahapan seleksi. Setelah mengirimkan CV, kandidat yang dinilai memiliki akses ke informasi non-publik—seperti kontak pemerintah atau aktivitas militer—akan diwawancarai secara virtual. Tahap akhir, mereka diminta menulis laporan percobaan tentang topik-topik seperti hubungan internasional China atau pertahanan. Setiap laporan dihargai hingga seribu dolar AS, yang dibayarkan melalui platform pembayaran digital.
Menteri Keamanan Inggris, Dan Jarvis, mendesak seluruh personel pemerintah dan militer untuk mewaspadai taktik ini. “Kami telah mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan negara dan akan terus menangani aksi bermusuhan dari berbagai negara, termasuk China,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Jarvis juga merujuk pada sejumlah kasus terkini yang menunjukkan kekuatan hukum Inggris dalam menghukum pelaku spionase atas nama negara asing.
Pada November lalu, MI5 mengidentifikasi dua akun LinkedIn yang digunakan atas nama Kementerian Keamanan Negara China (MSS), yakni Amanda Qiu dan Shirly Shen. Simon Whelband, peneliti untuk anggota parlemen Konservatif Neil O'Brien, mengaku pernah dihubungi oleh salah satu akun tersebut. “Pesan itu ditulis dalam bahasa Inggris yang buruk dan berisi tawaran pekerjaan,” katanya. O'Brien menambahkan bahwa pegawai yang lebih junior mungkin tidak menyadari bahayanya dan menganggap tawaran itu asli.
Langkah pengamanan tambahan telah diambil Inggris, termasuk peningkatan teknologi enkripsi senilai £170 juta untuk komunikasi pemerintah dan perlindungan baru dari kejahatan siber China. Namun, pada September lalu, kasus dua pria yang dituduh menjadi mata-mata China gagal di pengadilan karena bukti tidak dapat diperoleh dari pemerintah yang menyebut China sebagai ancaman keamanan nasional.
Konteks Indonesia: Peringatan Five Eyes ini relevan bagi Indonesia, yang memiliki hubungan ekonomi dan keamanan yang kompleks dengan China. Sebagai mitra dagang utama dan investor infrastruktur, Indonesia rentan terhadap praktik spionase serupa, terutama di sektor pertahanan dan teknologi. Para ahli keamanan siber Indonesia menyarankan peningkatan kewaspadaan di kalangan pegawai negeri dan swasta yang memiliki akses informasi sensitif, serta penguatan regulasi perlindungan data.
Ke depan, kolaborasi internasional seperti Five Eyes dapat menjadi model bagi Indonesia untuk memperkuat deteksi dini terhadap ancaman spionase. Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: sejauh mana negara-negara berkembang seperti Indonesia mampu melindungi data strategisnya dari tekanan negara adidaya?