Melissa Etheridge: Hidup Terus Berjalan Setelah Kehilangan Anak karena Opioid
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Come to My Window' itu kehilangan putranya, Beckett, pada 2020 akibat kecanduan opioid, dan kini memilih mengalihkan kesedihan dengan berkebun atau berkendara.
- Dalam wawancara terbaru, Etheridge mendorong orang tua lain yang mengalami nasib serupa untuk tidak larut dalam rasa bersalah dan terus melanjutkan hidup.
- Melalui memoar 'Talking to My Angels', ia membuka kisah penanganan kecanduan dalam keluarga dan harapan bertemu kembali dengan sang anak di alam spiritual.

Melissa Etheridge memilih untuk terus menjalani hidup meskipun harus kehilangan putranya, Beckett, yang meninggal pada 2020 akibat komplikasi kecanduan opioid di usia 21 tahun. Penyanyi berusia 65 tahun itu mengaku butuh waktu untuk menemukan cara berdamai dengan kehilangan yang begitu mendalam, terutama saat tiba momen-momen yang dulu biasa ia habiskan untuk berbincang dengan sang anak.
Dalam perbincangan dengan Us Weekly, Etheridge menceritakan bagaimana ia mengisi kekosongan yang ditinggalkan Beckett. “Saya duduk dan benar-benar membiarkan kesedihan itu terjadi. Lalu saya berpikir, ‘Baiklah, karena saya tidak bisa lagi meneleponmu — dulu ia mengirim pesan setiap hari, menelepon saya setiap hari — maka saya akan pergi berkebun, saya akan pergi berkendara. Saya akan melakukan hal-hal itu. Saya akan terus hidup, meskipun Anda tahu saya memiliki rasa kehilangan itu,” ujarnya.
Beckett adalah anak Etheridge dari hubungannya dengan mantan pasangan Julie Cypher, dengan ayah biologis musisi David Crosby. Kematian Beckett akibat overdosis opioid menjadi pukulan berat bagi keluarga, namun Etheridge memilih untuk tidak membiarkan duka menghentikan langkahnya. Ia bahkan secara terbuka mendorong orang tua lain yang mengalami tragedi serupa untuk tidak terperangkap dalam rasa bersalah.
Dalam wawancara dengan Good Morning America, Etheridge mengungkapkan harapannya agar para orang tua yang kehilangan anak karena kecanduan tidak menyalahkan diri sendiri. “Saya berharap orang-orang tahu bahwa mereka tidak sendirian. Saya melihat banyak orang tua yang menanggung rasa bersalah dan malu yang sangat besar ketika anak mereka menjadi kecanduan dan meninggal. Hal ini semakin sering terjadi dan bisa menimpa keluarga mana pun. Rasa bersalah dan malu itu benar-benar bisa menghentikan hidup Anda sendiri. Saya tahu Beckett tidak ingin saya menghentikan hidup saya,” katanya.
Keyakinan spiritual menjadi pilar penting bagi Etheridge dalam menghadapi kehilangan. Ia percaya bahwa ada roh yang menghubungkan semua manusia dan ia akan bertemu kembali dengan putranya suatu hari nanti. “Saya percaya Beckett ingin saya bahagia,” tambahnya.
Kisah perjuangan Etheridge melawan kesedihan dan kecanduan dalam keluarganya terdokumentasi dalam memoar terbarunya, Talking to My Angels. Buku ini lahir dari kesadaran bahwa ia perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan publik tentang bagaimana ia bertahan. “Ia meninggal pada 2020 di awal pandemi COVID, dan saya tahu seiring waktu saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saya tidak pernah lari dari kebenaran atau kehidupan yang terjadi, jadi saya pikir ini saat yang tepat untuk menulis buku tentang bagaimana saya menangani kecanduan dalam keluarga, kematian akibat kecanduan, dan bagaimana kami semua melewatinya,” jelas Etheridge.
Fenomena kecanduan opioid yang merenggut nyawa Beckett juga menjadi perhatian serius di Indonesia. Meskipun data kasus opioid di Indonesia tidak setinggi di Amerika Serikat, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, termasuk jenis opioid seperti tramadol dan fentanil ilegal, terus mengancam generasi muda. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat ribuan kasus penyalahgunaan narkoba setiap tahun, dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Kisah Etheridge menjadi pengingat bahwa kecanduan bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang latar belakang, dan dukungan keluarga serta penghapusan stigma menjadi kunci pemulihan.
Ke depan, Etheridge berencana terus menyuarakan kesadaran akan bahaya kecanduan opioid melalui musik dan tulisannya. Pertanyaannya, mampukah masyarakat Indonesia belajar dari tragedi ini untuk memperkuat pencegahan dan pendampingan bagi keluarga yang terdampak penyalahgunaan narkoba?



