Kritis Setelah Dipalak dan Dianiaya, Bocah 6 Tahun di Jakpus Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- MWP (6) mengalami penganiayaan berat di taman Kramat Pulo, Jakpus, hingga kritis dan dirawat di ICU RSCM.
- Korban mengaku kerap dimintai uang oleh teman-temannya, termasuk seorang pelajar SMA; praktik ini juga menimpa anak lain.
- Keluarga pelaku sudah meminta maaf, namun ibu korban menolak dan menuntut proses hukum demi keadilan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257072/original/066857000_1781192564-36745.jpg)
Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun di Jakarta Pusat nyaris kehilangan nyawa setelah menjadi korban perundungan dan pemalakan oleh teman-teman sepermainannya. MWP, sapaan korban, harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah ditemukan pingsan di Taman Kramat Pulo, Minggu malam (7/6/2026). Kini setelah sadar, ia mengungkapkan bahwa kekerasan yang dialaminya bukanlah insiden pertama.
Vira Ismayanti (26), ibu MWP, menceritakan bahwa malam itu ia mengizinkan putranya bermain seperti biasa. Namun, satu jam kemudian, seorang teman MWP datang memberitahu bahwa Wildan—nama panggilan korban—pingsan dan diseret kakinya lalu disiram air. "Saya pikir kok anak saya sampai diperlakukan seperti hewan," ujar Vira dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya, Kamis (11/6).
Tanpa menunggu lama, Vira membawa MWP ke rumah sakit terdekat, namun karena kondisinya kritis, ia dirujuk ke RSCM. Di perjalanan, napas MWP sempat berhenti. Dokter memberikan penanganan intensif sebelum memindahkannya ke ruang ICU. Keesokan harinya, saat kondisinya mulai stabil, MWP mengaku kepada ibunya bahwa ia sering digebuk dan dimintai uang oleh teman-temannya. "Kalau aku enggak dikasih uang, aku enggak ditemenin sama mereka," kata Vira menirukan pengakuan anaknya.
Praktik pemalakan ini ternyata tidak hanya menimpa MWP. Menurut Vira, beberapa anak lain di kawasan tersebut juga menjadi sasaran. Uang yang terkumpul digunakan para pelaku untuk membeli jajanan. Salah satu pelaku diketahui masih duduk di bangku SMA. Vira mengaku tidak menyangka remaja yang seharusnya menjadi panutan justru menjadi pelaku perundungan. Beberapa minggu sebelumnya, sandal MWP pernah disembunyikan di atas pohon oleh teman-temannya—sebuah tanda bahwa kekerasan sudah dimulai sejak lama.
Kasus ini menjadi pengingat pahit akan maraknya perundungan di kalangan anak-anak, bahkan yang melibatkan pelajar SMA. Di Indonesia, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kasus perundungan masih tinggi, dengan banyak korban enggan melapor karena takut ancaman. Vira sendiri menolak permintaan maaf dan bingkisan dari keluarga pelaku. "Saya hanya ingin keadilan bagi anak saya," tegasnya.
Kondisi MWP kini belum sepenuhnya pulih. Ia sempat mengalami demam hingga 40 derajat Celsius, serta bibir dan kedua kakinya membiru. Vira membawanya ke puskesmas untuk perawatan lanjutan. Pekan depan, MWP dijadwalkan menjalani terapi psikologis untuk memulihkan trauma yang dialaminya. Pertanyaan besar kini menggantung: apakah penegakan hukum akan berjalan tegas, atau kasus ini kembali tenggelam seperti banyak kasus perundungan lainnya?