Suplemen B12 dan Folat: Kunci Baru Melawan Kelelahan Kronis?
Baca dalam 60 detik
- Studi dari Jepang mengaitkan kadar homocysteine tinggi—indikator defisiensi vitamin B12 dan folat—dengan peningkatan risiko kelelahan fisik dan penurunan motivasi.
- Temuan ini bersifat asosiatif, bukan kausal, namun membuka peluang intervensi nutrisi sebagai pendekatan baru untuk mengelola chronic fatigue syndrome.
- Para ahli menekankan pentingnya pola makan kaya sayuran hijau dan protein hewani, serta suplementasi pada individu dengan asupan rendah, untuk menjaga metabolisme homocysteine tetap optimal.

Kelelahan berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari mungkin tidak hanya disebabkan oleh stres atau kurang tidur. Sebuah studi terbaru dari Jepang mengungkap bahwa kekurangan vitamin B12 dan folat—yang tercermin dari tingginya kadar homocysteine dalam darah—berkaitan erat dengan keluhan kelelahan fisik dan rendahnya motivasi, terutama pada populasi dewasa.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrients itu melibatkan 602 partisipan dari Pusat Inovasi Ilmu Kesehatan Universitas Osaka. Tim peneliti mengukur kadar homocysteine, vitamin B12, dan folat serum, lalu membandingkannya dengan skor kelelahan menggunakan Chalder Fatigue Scale. Hasilnya, pria dengan homocysteine tinggi cenderung memiliki skor kelelahan fisik yang lebih buruk, sementara wanita dengan kondisi serupa menunjukkan motivasi yang lebih rendah.
Homocysteine adalah asam amino yang diproduksi saat tubuh memecah metionin—zat yang banyak ditemukan dalam daging, telur, dan kacang-kacangan. Agar homocysteine dapat diurai dengan baik, tubuh memerlukan vitamin B12 dan folat. Jika kedua vitamin ini kurang, homocysteine akan menumpuk dan memicu stres oksidatif, peradangan, serta gangguan fungsi pembuluh darah—semua faktor yang dapat menguras energi dan menurunkan semangat.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat potong lintang (cross-sectional), sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. “Temuan ini lebih bersifat menghasilkan hipotesis daripada bukti definitif,” ujar Thomas M. Holland, MD, MS, ilmuwan dari Rush Institute for Healthy Aging, Chicago, yang tidak terlibat dalam penelitian. Ia menambahkan bahwa homocysteine mungkin berperan sebagai penanda metabolik yang lebih luas, bukan sekadar indikator defisiensi vitamin.
Eamon Laird, PhD, dosen nutrisi di ATU Sligo, Irlandia, menyoroti potensi bias seleksi akibat tingginya jumlah partisipan yang dikeluarkan dari analisis. Meski demikian, ia mengakui bahwa hubungan antara vitamin B dan kelelahan layak diteliti lebih lanjut. “Jika benar ada efek, perbedaan jenis kelamin mungkin dipengaruhi oleh hormon estrogen atau metabolisme homocysteine yang berbeda,” katanya.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat pola makan yang cenderung rendah sayuran hijau dan sumber vitamin B12 hewani. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia belum mencukupi kebutuhan sayur dan buah harian. Defisiensi vitamin B12 dan folat pun berpotensi lebih luas dari yang diperkirakan, terutama pada kelompok vegetarian, lansia, dan penderita gangguan penyerapan nutrisi.
Laird menyarankan agar kebutuhan vitamin B12 dan folat dipenuhi melalui makanan utuh. B12 banyak terdapat pada daging, ikan, telur, dan susu, sedangkan folat melimpah di sayuran hijau, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi. Bagi yang kesulitan memenuhi lewat diet, suplemen bisa menjadi alternatif, meski penyerapan B12 lebih efisien dalam dosis kecil yang dikonsumsi secara teratur.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah suplementasi B12 dan folat menjadi terapi tambahan yang efektif untuk pasien kelelahan kronis? Studi lanjutan dengan desain intervensi acak terkontrol masih diperlukan untuk memastikan manfaat klinisnya. Namun, menjaga asupan kedua vitamin ini jelas merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa pun untuk mendukung metabolisme energi dan vitalitas sehari-hari.



