Gempa Magnitudo 3,8 Guncang Melonguane: Peringatan Dini Aktivitas Seismik Sulawesi Utara
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan M3,8 melanda barat laut Melonguane, Sulut, pada Senin (8/6) pukul 14.10 WIB dengan kedalaman 151 km.
- BMKG mencatat pusat gempa berada 157 km dari Melonguane; getaran dirasakan ringan dan tidak berpotensi tsunami.
- Kejadian ini menjadi pengingat tingginya aktivitas seismik di Sulawesi Utara yang perlu diantisipasi masyarakat dan pemerintah daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,8 mengguncang wilayah barat laut Melonguane, Sulawesi Utara, pada Senin (8/6/2026) siang. Meskipun tergolong kecil, guncangan ini menjadi alarm bagi masyarakat pesisir akan dinamika lempeng bumi yang terus aktif di kawasan Indonesia timur.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 14.10.38 WIB dengan episenter terletak di koordinat 5,23 Lintang Utara dan 125,97 Bujur Timur. Pusat gempa berada sekitar 157 kilometer di barat laut Melonguane, dengan kedalaman mencapai 151 kilometer. BMKG menegaskan bahwa informasi awal ini mengutamakan kecepatan, sehingga data masih dapat berubah seiring kelengkapan analisis lebih lanjut.
Kepala Stasiun Geofisika Manado, dalam keterangan terpisah, menjelaskan bahwa gempa dangkal seperti ini umumnya disebabkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina yang bergerak ke arah barat daya. “Wilayah Sulawesi Utara memang merupakan salah satu zona seismik paling aktif di Indonesia. Gempa magnitudo kecil sering terjadi dan biasanya tidak menimbulkan kerusakan signifikan,” ujarnya. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Sulawesi Utara, gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Meskipun kekuatannya kecil, wilayah ini pernah dilanda gempa besar pada masa lalu. Pemerintah daerah bersama BMKG terus menggencarkan edukasi mitigasi gempa bumi, termasuk jalur evakuasi dan titik kumpul aman. Sejauh ini belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat gempa M3,8 tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya dan selalu merujuk pada kanal resmi. “Kami terus memantau perkembangan aktivitas seismik. Jika ada perubahan signifikan, akan segera kami sampaikan,” tulis BMKG melalui akun media sosialnya. Ke depan, frekuensi gempa kecil di kawasan ini diperkirakan masih akan tinggi, sehingga kewaspadaan kolektif menjadi kunci.



