Selamat dari Maut di Everest: Kisah Pemandu yang Ditinggal Mati dan Praktik Berbahaya Industri Tur Gunung
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemandu gunung asal Nepal, Hillary Dawa Sherpa, ditemukan hidup setelah enam hari terdampar di ketinggian 7.200 meter tanpa oksigen, sementara keluarganya sudah menggelar upacara kematian.
- Kecelakaan ini memicu investigasi terhadap agen perjalanan Himalayan Traverse Adventure (HTA) yang diduga lalai karena mempekerjakan juru masak sebagai pemandu puncak dengan bayaran murah.
- Kasus ini menyoroti praktik berisiko di industri pendakian Everest, di mana keselamatan pemandu lokal kerap dikorbankan demi menekan biaya paket ekspedisi.

Seorang pria bersetelan biru cerah merangkak di kaki Khumbu Icefall—salah satu seksi paling mematikan di Gunung Everest—saat tim pembersih sampah menemukannya pekan lalu. Ia adalah Hillary Dawa Sherpa, 57 tahun, pemandu yang dinyatakan hilang enam hari sebelumnya. Keluarganya di Nepal sudah menyiapkan ritual pemakaman. Namun Hillary Dawa masih hidup, meski menderita radang dingin dan kelelahan ekstrem.
Keajaiban ini menggetarkan komunitas pendaki dunia, tetapi juga membuka luka lama: seberapa besar risiko yang harus ditanggung para Sherpa—pemandu lokal—demi industri pariwisata gunung yang kian menggiurkan? Pertanyaan itu mengemuka setelah terungkap bahwa Hillary Dawa sebenarnya dipekerjakan sebagai juru masak di Kamp 2, bukan pemandu puncak. Perusahaan penyelenggara, Himalayan Traverse Adventure (HTA), mengklaim ia menggantikan pemandu lain yang sakit di Base Camp.
Dalam wawancara dengan BBC, manajer HTA Angfurba Sherpa mengatakan Hillary Dawa menerima tugas dadakan itu karena ingin mendapat penghasilan tambahan. Padahal, menurut para ahli, juru masak jarang dibekali pelatihan untuk memandu di ketinggian 8.000 meter. “Pemandu lokal yang membawa klien ke puncak gunung setinggi 8.000 meter biasanya dilatih khusus untuk tujuan itu,” ujar Ben Ayers, jurnalis Outside Magazine yang lama meliput Everest.
Kronologi kejadian bermula pada 29 Mei, saat rombongan turun dari Kamp 4 (7.920 meter). Dua klien—Chris Thrall dari Inggris dan Mariusz Chmielewski dari Polandia—bersama pemandu lain, Pasang Kaji Sherpa, berjalan lebih dulu karena Chmielewski kehabisan oksigen. Thrall yang berada di belakang bersama Hillary Dawa mengaku pemandu itu berhenti duduk di atas ranselnya di dekat Kamp 3. “Saya berbalik dan bertanya, ‘Hillary, kau baik-baik saja, kawan?’ Dia menjawab, ‘Ya, ya, saya baik-baik saja, Chris, silakan lanjutkan,’” kisah Thrall dalam video Instagram. Thrall kemudian memutuskan membantu Chmielewski yang lebih lemah, sementara Hillary Dawa tertinggal.
Chmielewski menuding HTA lalai. Menurutnya, Pasang Kaji sudah memberi tahu perusahaan pada 30 Mei bahwa Hillary Dawa hilang, tetapi pencarian baru dilakukan beberapa hari kemudian. “Hillary Dawa ditinggalkan sendirian; dia menyelamatkan dirinya sendiri. Ini menunjukkan kebenaran menyedihkan tentang bagaimana Himalayan Traverse memperlakukan karyawannya,” ucap Chmielewski kepada BBC. Ia juga mempertanyakan keputusan mendaki yang serampangan dan ketidaksiapan perusahaan. Sementara itu, HTA membantah tuduhan tersebut. Pendiri HTA, Dawa Sherpa, mengatakan keterlambatan pencarian semata-mata akibat cuaca buruk. “Cuaca sangat buruk, terjadi whiteout, salju tebal terus-menerus. Tidak mungkin mengirim helikopter—sama saja mengirim penyelamat untuk mati,” kilahnya.
HTA dan perusahaan mitra, 8K Expeditions, saling lempar tanggung jawab soal operasi penyelamatan. 8K Expeditions mengaku sudah berusaha membantu, tetapi HTA tidak merespons koordinasi. HTA sendiri menyalahkan klien yang memilih paket termurah namun menuntut layanan VIP. “Mereka membayar harga termurah dan tetap mengharapkan layanan VIP,” ujar Angfurba. Chmielewski menyebut pernyataan itu “absurd dan keterlaluan”.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat maraknya wisata pendakian gunung tinggi, termasuk di Papua dan Jawa. Praktik mempekerjakan pemandu lokal tanpa kualifikasi memadai demi menekan biaya bisa berujung petaka. “Pertanyaan utama kami: mengapa pencarian tidak dimulai segera setelah dia terperangkap? Kami ingin tahu mengapa ada kelalaian seperti itu,” kata Pasang Dawa Sherpa, sahabat Hillary Dawa. Kini, keluarga Hillary Dawa telah melaporkan HTA ke polisi, dan Departemen Pariwisata Nepal tengah menyelidiki. Apakah kasus ini akan mendorong regulasi yang lebih ketat bagi operator ekspedisi? Ataukah industri ini akan terus mengorbankan nyawa demi rupiah?



