Gempa M7,7 di Filipina Picu Peringatan Tsunami, Warga Sangihe Mengungsi ke Dataran Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi dangkal berkekuatan M7,7 di lepas pantai Filipina Selatan memicu peringatan tsunami yang membuat ribuan warga Kepulauan Sangihe mengungsi.
- BMKG mencatat gempa akibat subduksi lempeng dengan mekanisme sesar naik, dirasakan hingga skala IV MMI di sejumlah wilayah Sulawesi dan Maluku Utara.
- Warga di pesisir Sangihe masih bertahan di jalur evakuasi sambil menunggu kepastian status tsunami dari otoritas setempat.

Guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di lepas pantai selatan Mindanao, Filipina, Senin pagi, memicu kepanikan massal di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Warga dari sejumlah kelurahan pesisir langsung bergerak menuju dataran tinggi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami.
Menurut keterangan Jufry Dalita, seorang aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, warga dari Kelurahan Tidore, Tapuang, dan permukiman tepi pantai lainnya berhamburan keluar rumah saat gempa terasa sangat kuat. Mereka kemudian mengungsi ke Jalan Manganitu, yang berada di ketinggian, untuk menghindari potensi gelombang tsunami. "Banyak yang panik, apalagi setelah mendengar peringatan tsunami dari BMKG," ujarnya kepada Antara.
BMKG mencatat episenter gempa berada di koordinat 5,80Β° Lintang Utara dan 125,14Β° Bujur Timur, sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk jenis dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault, yang kerap memicu tsunami.
Guncangan tidak hanya dirasakan di Sangihe. BMKG melaporkan getaran mencapai skala intensitas IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kota Morotai, Halmahera Utara, serta III-IV MMI di Kabupaten Gorontalo Utara. Sejumlah daerah lain seperti Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Manado, Palu, Bitung, dan Parigi Moutong turut merasakan getaran skala III MMI. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa.
Jufry mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak lengah. "Kami mengajak warga untuk mengungsi dengan tertib, memperhatikan anggota keluarga, dan menunggu informasi resmi dari BMKG," katanya. Pemerintah setempat telah mengaktifkan posko darurat di titik-titik evakuasi untuk mengantisipasi kebutuhan dasar para pengungsi.
Peringatan tsunami yang dikeluarkan BMKG berlaku untuk wilayah pesisir Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Masyarakat diimbau menjauhi pantai dan tidak melakukan aktivitas di bibir laut hingga status peringatan dicabut. Pertanyaan kini mengemuka: seberapa cepat sistem deteksi dan respons tsunami Indonesia mampu melindungi warga di daerah rawan seperti Sangihe, yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif di Laut Filipina?



